Seorang blogger bola dari Inggris menulis posting dengan judul “Apa yang menggangu Anda terkait Piala Dunia 2010?”. Sebuah pertanyaan yang bisa bersifat retorika dan bisa juga sungguhan.

Tapi benarkah, ada sesuatu yang mengesalkan Anda dari turnamen di Afrika Selatan itu? Suara bising mirip tawon kawin dari vuvuzela itu barangkali? Atau jangan-jangan Anda kesal melihat tim jagoan kalah.
Saya pribadi hanya terganggu oleh kepemimpinan wasit di lapangan. Bukan soal kontroversialnya. Buat saya, wasit melakukan kesalahan tugas, yang fatal sekalipun, adalah manusiawi. Pun kesalahan itu tak perlu ditindaklanjuti dengan penggunaan video atau teknologi lain.
Namanya juga olahraga manusia, bukan adu besi para robot.
Yang saya sesalkan dari kinerja wasit adalah betapa mudahnya mereka mengeluarkan kartu kuning dan merah. Namun ada beberapa kejadian yang justru sebenarnya patut dipertanyakan. Bahkan sebagian keterlaluan.
Pemain Swiss Valon Behrami atau bintang Prancis Yoann Gourcuff pasti penasaran dengan kartu merah dari wasit. Betul bahwa kedua pemain itu melakukan pelanggaran keras. Tapi dari kacamata saya yang cuma melihat dari televisi, itu adalah profesional foul. Kadarnya hanya sedikit lebih rendah dari “pelanggaran” Luis Suarez ketika bermain “voli” supaya Ghana tak bisa memasukkan bola ke gawang Uruguay.
Saya sampai pada kesimpulan bahwa wasit di Piala Dunia 2010 tak mampu membedakan gerakan pemain yang memang berniat mencederai dan mana yang merupakan efek gerakan awal. Bila Gourcuff terlihat menyikut pemain Afrika Selatan, bukan berarti dia sengaja. Itu adalah efek dari lompatan yang dilakukannya untuk menyundul bola. Hampir semua pemain akan mengayunkan lengan ketika melompat untuk menyundul, bukan?
Yang terjadi pada partai final lebih aneh lagi. Wasit Howard Webb mengeluarkan 14 kartu kuning dan satu kartu merah, tetapi wasit Inggris itu justru luput mengeluarkan “si pemain kung-fu” Nigel De Jong atau Mark van Bommel yang kian hari permainannya lebih layak tampil di Liga Indonesia.
Wasit memang dituntut lebih tegas. Ini memang tak lepas dari kebijakan FIFA.
FIFA punya program Fair Play yang salah satu butirnya adalah mengeliminir permainan brutal. FIFA ingin pertandingan berjalan “bersih”. Tapi karena ditegaskan berulang-ulang, komunikasi yang sampai di wasit menjadi salah persepsi. Ofisial pertandingan keliru menerjemahkannya di dalam lapangan.
Kekeliruan wasit dalam menjaga koridor akhirnya mengacaukan fokus mereka. Apa yang terjadi pada gol sah Inggris atau gol offside Carlos Tevez saat Argentina mengalahkan Meksiko mungkin disebabkan oleh kacaunya konsentrasi wasit.
Bahkan akhirnya program “laga bersih” menjadi antiklimaks di final. Permainan keras Belanda, bahkan menjurus kasar, tak lagi bisa ditangani Webb. Pada awalnya, bekas polisi itu menerapkan kebijakan “10 menit” yang biasa digunakan para wasit dengan maksud meredam tensi. Tapi kebijakan ayunan keras-lembut-keras dari wasit tak berdaya guna.
Saya tak tahu apa yang ada di benak Presiden FIFA, Sepp Blatter. Mengapa dia perlu menaikkan kadar ketegasan wasit? Bukankah selama ini wasit yang bertugas di Piala Dunia kemarin punya rapor relatif baik. Mereka bukan wasit kemarin sore. Mereka tahu mana yang harus diganjar kartu dan mana yang tidak.
Hanya karena paranoid FIFA semata, wasit akhirnya menjadi bingung harus menggunakan koridor yang mana demi menjaga reputasinya. Dan malangnya, ini terjadi di Piala Dunia!
tapi asli belanda kmrn mainnya keras banget di final … agak lega akhirnya sepakbola ‘pragmatis’ kalah juga hihi~
Well, aku harus akuin Mas Hedi bener juga. Gerakan nyikut itu nampaknya nggak sengaja, aku rasa orang normal pun lengannya akan bergerak seperti itu, itu sudah refleks alamiah. Sering aku lihat dalam banyak pertandingan, cedera-cedera yang terjadi setelah dicederai pemain lain umumnya bukan karena human error yang disengaja, tapi lebih karena tabrakan dalam rangka salah satu pemain berniat melindungi bola. Pendek kata, cedera ini umumnya manusiawi.
Apakah wasit tahu ini? Atau apakah FIFA tahu ini juga?
kadang saya malah mikir kalau kebanyakan aturan baru malah diperkenalkan di piala dunia. misal, teknologi baru (jabulani). atau ya itu tadi, penaikan standar ketegasan wasit. belum lagi aturan aturan yang macem macem itu.
lha wong di even akbar kok malah mengujicoba hal baru.
hore….De Jong dan Bommel layak main di Liga Indonesia, nambah kualitas :p
bagiku, diluar konteks sepakbolanya … 1 hal yg menarik adalah fenomena paul si gurita. tanya: kenapa?
http://duniasithole.wordpress.com/2010/07/08/paul-si-gurita-dibenci-dan-dirindukan-penggemar-bola/
sampe skg msh dongkol kl inget gol nya lampart yg gk di sah kan oleh wasit. dan skg bru sadar si wasit kl ternyata dia yg salah ..huhuhuhu
kata ulama itu haram!!!!!!!!!!
Untung ada piala dunia, kalo tidak, saya pasti tidak akan bisa melek sampai jam 2 atau 3 pagi. Ga begitu suka bola si.. alasannya? kenapa si pada rebutan bola.. lha wong tak belikan satu2 aja ya.. biar ga rebutan
Kasian sama kapten tim Aljazair yang malah di-kartumerah gara-gara melerai rekan setim-nya yang protes berlebihan.
Wasitnya mungkin minder juga Sam. Tampil di Piala Dunia bikin gugup jadinya bingung saat menentukan keputusan.
itulah sekali lagi indahnya sepakbola…
kontroversi? adalah bagian keindahan sepakbola. termasuk juga teknologi
Semoga teknologi tidak digunakan di sepakbola kedepan, kalau digunakan pasti gak ada cerita-cerita unik di masa mendatang tentang seperti yang terjadi pada masa lalu.
NB:titipanku wes teko mas
kaos…+ singo edan…
—
Suwun lho gus soal soak & ongis nade – hedi
President FIFA udah pikun…
Tp suara tawon itu memang menggangu eh. Sebel aku.
serius, final kemaren ngliat belanda aneh banget, berasa ngliat argentina aja..:)
Selamat pagi, kunjungan perdana saya. Salam kenal bro. Blog nya bagus