RSS You're reading Jebakan Liga Champions article on sekadarblog

Jebakan Liga Champions

Dua musim lalu, Girondins Bordeaux juara di Ligue 1 Prancis. Maka musim berikutnya, mereka berhak main di kompetisi paling glamor di dunia, Liga Champions. Pelatih (lama) Laurent Blanc mengantar timnya hingga perempat final.

Itu bukan prestasi buruk. Tapi konsekuensinya, Bordeaux gagal masuk tiga besar Ligue 1 musim itu. Merajai setengah musim di puncak klasemen, Bordeaux akhirnya terdampar di urutan ketujuh klasemen akhir. Jangankan tiket ke Champions, Liga Europa pun luput digenggam.

Nggak heran presiden Bordeaux, Jean Louis Triaud, yang ambisius (ya, seluruh presiden klub Prancis memang ambisius, meski kesannya nafsu besar tenaga kurang) menjadi kecewa.

Dia bilang, timnya kehabisan uang. Tak ada dana belanja. Itu sebabnya Yoann Gourcuff harus dilego ke Olympique Lyon. Semboyan bisnis klub Eropa: no Champions League, no (big) shopping. Liga Champions memang menjanjikan. Kompetisi itu menjadi tolok ukur bagi pencapaian prestasi klub, pemain dan pelatih, serta finansial.

Akibatnya, persaingan merebut tiket jadi lebih sengit. Bahkan kadarnya tak kalah dari perlombaan di jalur juara. Sebagai contoh bisa dilihat di Spanyol. Dua jatah sisa tiket akan diperebutkan oleh Atletico Madrid, Valencia, Sevilla dan Villarreal. Dua tiket lainnya sudah pasti dikuasai Barcelona dan Real Madrid.

Namun Liga Champions juga menghadirkan jebakan. Bila tak disikapi hati-hati maka klub bisa masuk dalam jurang kerugian hebat. Selain Bordeaux, masa lalu menghadirkan korban Leeds United dan Red Star Belgrade.

Liga Champions memang menyediakan keuntungan besar. Semakin jauh langkah anda, semakin besar keuntungannya. Di Champions, sebuah tim sudah pasti akan menerima uang tampil (match fee).

Jika menang dan draw, tim mendapat bonus. Hanya kalah yang tidak diapresiasi, artinya tim hanya akan pulang dengan uang tampil.

Selain uang tampil, tim akan mendapat keuntungan hak siar (jika laganya disiarkan langsung oleh tv). Jadi, tak heran tim juara seperti Inter Milan meraih bagian uang terbesar musim lalu.

Di liga kelas dua Eropa seperti Belgia, Yunani atau Swiss, klub langganan ke Liga Champions mampu bersikap dengan baik. Berbeda dengan rivalnya dari liga elite seperti di Prancis atau Inggris. Klub seperti Anderlecht (Belgia) atau Basel (Swiss) mampu menjaga ritme untuk tampil tetap bagus di liga lokal dan hanya menjalani nasib di Eropa.

Anderlecht atau Basel paham mereka tak akan pernah mampu berprestasi hingga minimal perempat final di Liga Champions. Jadi, untuk apa memaksakan kehendak. Mereka lebih senang memfokuskan diri di liga lokal agar tahun depan tetap bisa tampil di Eropa. Keseimbangan keuangan menjadi konsentrasi utama.

Tahun ini, Tottenham Hotspur bermain di Liga Champions untuk pertama kalinya. Harry Redknapp bukan manajer kacangan. Seharusnya dia paham bahwa timnya belum terbiasa bermain di dua kompetisi utama sekaligus. Yang seharusnya dihitung adalah bagaimana mengamankan (kembali) posisi empat Liga Premier.

Hingga bursa transfer musim panas ditutup 31 Agustus, Redknapp terlihat mampu mengontrol diri untuk merekrut pemain baru, bila tak mau dikatakan gagal (contohnya, Luis Fabiano dari Sevilla). Belanja yang terkontrol akan bisa menjaga keuangan Spurs dari kepunahan. Sebab, banyak pengamat menilai Spurs tak akan mampu lolos ke Liga Champions musim depan. Hmmm…

Ϡ

2 Responses to “Jebakan Liga Champions”

  1. pudakonline says:

    Menarik jika bicara soal finansial klub-klub elite Eropa kang, seperti membongkar rahasia terdalam mereka, tapi ada yang bilang, laga super glamour dan klub-klub elite Eropa tak akan pernah segemerlap sekarang ini tanpa dukungan negara-negara Asia, saya jadi penasaran sam, berapa persentase finansial yang mereka dapatkan dari beberapa perusahaan besar di Asia, seperti Arabian Airlines, Sony, Hyundai dan seterusnya.

    Berapa presentasenya, aku musti ngubek2 web/blog sport business dulu tuh. Tapi kira2 cukup gede walau cenderung turun karena perusahaan2 multi nasional Amerika & Eropa juga mulai banyak. Beberapa bahkan perusahaan judi. Tapi kalo soal hak siar & merchandise klub yang diborong orang Asia, kayaknya sih banyak kang :D – hedi

  2. agustri says:

    Sang bomber pun dilego, Chamakh, kemudian diego placente. kalau di Indonesia kira-kira sejauh mana imbasnnya ?. buat ikut kompetisi reguler saja kembang kempis. yang menarik untuk sepakbola di Eropa sekarang adalah sponsor perusahaan judi, marak sekali tim-tim eropa menggunakan sponsor perusahaan judi.seperti betclick.–>Juventus,

Leave a Reply