RSS You're reading Liga Super Indonesia Datang Lagi article on sekadarblog

Liga Super Indonesia Datang Lagi

Liga Super Indonesia (LSI) musim baru segera bergulir. Minggu sore besok (26/9), peluit kick-off mulai ditiup para wasit.

Ada rasa syukur melihat sistem kompetisi penuh masih tetap bertahan sampai musim ketiga ini. Mungkin juga karena ada tekanan AFC yang punya proyek membangun profesionalisme bisnis sepakbola Asia. Konsistensi adalah barang mahal sepakbola nasional. Akhir musim lalu, bahkan ada wacana untuk membuat LSI bersistem 2 wilayah, bukan kompetisi penuh lagi.

Wacana seperti ini yang membuat saya tak pernah serius mengikuti sepakbola nasional. Dalam pikiran saya, tetek-bengek bola di sini cuma buah permainan politik. Mulai dari partisan partai politik sampai para pembesar daerah. Jangan lupa, LSI adalah kompetisi pemda dengan perputaran dana 90% adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Tercium aroma korupsi di sini.

Menjelang dimulai LSI, seperti biasa, semua tim bergeliat mempersiapkan diri. Namun juga tak terlihat antusiasmenya, jika tak mau dibilang lesu. Kecuali oleh suporter terkait. Tentu saja persiapan tim hanya selalu berisi seleksi dan seleksi. Ala tarkam.

Tim LSI harus melakukan seleksi karena ketiadaan lahan untuk memantau melalui kompetisi lain. Tidak ada kompetisi sejenis tim reserve dan tim yunior yang berkesinambungan dan konsisten membuat jalur jenjang pembinaan juga tak berfungsi.

Klub akhirnya membutuhkan waktu untuk menguji pemain. Belum lagi bila pelatih juga harus diganti. Kasus yang terjadi pada Darko Janakovic di Persib Bandung adalah sebuah contoh betapa klub di sini tidak profesional. Langkah strategi mereka tidak jelas. Memilih pelatih pun bisa bermasalah. Ini karena tak ada orang tehnik yang memang bertugas untuk itu. Tentu tidak semua manajemen begitu. Jangan digeneralisir.

Di luar soal kesiapan klub, jangan berharap LSI akan berjalan mulus. Kekacauan jadwal, keributan suporter, kericuhan laga karena buruknya kinerja wasit dijamin masih ada. Sulitnya izin kepolisian juga masih akan memberi warna, terutama di Jakarta. Kericuhan laten di LSI seakan “dibiarkan”. Saya tak pernah melihat ada tindakan nyata dari penyelenggara liga untuk mengatasinya. PSSI atau PT.LI cuma bisa memberi sanksi, sanksi dan sanksi.

Penyelenggara juga tak pernah melakukan tugas-tugas kehumasan. Bagaimana berkomunikasi secara baik dengan stakeholder kompetisi demi perbaikan mutu.

Dalam kericuhan seperti itu, sulit bagi LSI dan klub untuk mendulang sponsor bak kilauan emas. LSI memang ramai dan tak pernah sepi. Tapi citranya yang buruk bukanlah lahan bagus bagi pebisnis untuk ikut meramaikan.

Tapi itulah sepakbola kita. Penuh kekusutan. Tarafnya baru sampai di situ. Seberapapun buruknya, apa boleh bikin kita terpaksa menerima. Orang akhirnya hanya berusaha menikmati atau pura-pura meyakini dengan serius seperti layaknya suporter dan penonton di kompetisi Eropa sana.

Mereka memang musti pura-pura atau menari di atas permukaan saja. Seperti dibilang Pangeran Siahaan, siapa yang mau serius menggeluti kedalaman sepakbola nasional pasti orang gila. Saya setuju.

Selamat bergulir LSI. Ingatlah, wahai para pelaku, Anda bertanggung jawab pada pembayar pajak karena Anda memakai APBD.

Ϡ

4 Responses to “Liga Super Indonesia Datang Lagi”

  1. arif says:

    saya tdk begitu mengikuti sepakbola indonesia,tp saya berharap banyak pembenahan dilakukan. sampai hal seperti pencegahan tawur antar suporter :)

  2. Aggy says:

    ISL menggunakan 90% dana APBD.

    Hmm, boleh tahu berapa % dari dana APBD yang digunakan Pemda utk membiayai klub ini? Katakanlah Persib dan Pemda Jabar. Ada datanya?

  3. agustri says:

    bravo Arema Indonesia. mending “modar” daripada hidup dengan apbd :)

Leave a Reply