Uruguay jelas bukan bandingan kita. Bahkan seharusnya juga tidak menjadi latih tanding timnas Indonesia. Sebelum pertandingan, prediksi skor yang muncul menggambarkan situasi yang mirip dengan skor akhir nyata 1-7 di Gelora Bung Karno kemarin malam.

Indonesia memang nyaris tak pernah bagus. Lawan siapapun! Andai kita menang, katakanlah dari Kamboja di masa lalu atau Maladewa besok lusa, itu karena beberapa faktor individu pemain dan tim kita sedikit lebih baik dari lawan. Tapi secara bangunan permainan, Indonesia ini tak pernah jelas!
Lho, sewaktu Piala Asia 2007 lalu lumayan? Betul! Memang menyenangkan melihat “Garuda” waktu itu. Ritme, kebugaran fisik, kelenturan fisik, daya tahan dan koordinasi permainan cukup lumayan walau pada akhirnya hanya spirit kebangsaan yang paling menonjol membalut permainan Indonesia. Tapi jangan lupa, semua itu merupakan hasil dari pemusatan latihan yang sangat lama.
Untuk mengobati sakit timnas Indonesia, memang cuma pelatnas jangka panjang solusinya. Tapi itu tak mungkin dilakukan karena sudah tak lazim di dunia. Kompetisi klub yang masif dan seakan tiada henti membuat timnas harus bisa bersiap hanya dalam waktu maksimal tiga hari sebelum laga. Bahkan untuk tampil di kompetisi sekelas Piala Dunia sekalipun, tim seperti Jerman hanya bersiap tidak efektif selama 2 minggu!
Kembali ke laga semalam, kita bisa mencerna bagaimana sepakbola seharusnya dimainkan. Uruguay, dengan segala atribut kelas dunianya, hanya bermain sesuai pakem sepakbola secara umum. Kamusnya jelas. Saya yakin sekaligus sedih bahwa pelatih Oscar Tabarez tidak menerapkan strategi apapun, apalagi yang khusus, untuk menghadapi Indonesia.

Perhatikan bagaimana Uruguay melakukan penyerangan. Ketika seorang pemain, katakanlah Christian Rodriguez atau Walter Gargano, menguasai bola maka rekan-rekannya dalam flat barisannya akan bergerak senada. Tak pernah ada satu pun yang terlambat satu langkah di belakang atau terlalu cepat dua langkah di depan.
Inilah kamus sepakbola umum. Misal diterjemahkan ke dalam skema — misalnya 4-4-2, maka 4 pemain belakang dan 4 gelandang harus bergerak seirama, baik ketika maju atau mundur. Bangunannya selalu rata, bergaris relatif lurus di masing-masing lini.

Itu sebabnya, pemain Uruguay tak perlu gugup ketika harus mengalirkan bola. Gargano tak perlu melihat ke kiri dan kanan secara berlebihan hanya untuk mengumpan. Para pemain Uruguay juga tak pernah menguasai bola terlalu lama karena rekan-rekannya selalu bergerak bertukar dan mengisi posisi. Jarak antar pemain juga nyaris tak pernah lebih dari 4-5 meter dalam sebuah sistem zona kecil.
Lalu ketika bertahan, Uruguay juga disiplin — terlepas Indonesia jarang menyerang sehingga cuma menghasilkan 2 tembakan ke gawang oleh Boaz Solossa. Jantung pertahanan dijaga oleh kapten Diego Lugano dan Jorge Fucile, tetapi Mauricio Victorino dan Max Pereira yang sering aktif mengisi 4 gelandang sejajar saat menyerang di sisi sayap juga selalu kembali ke belakang untuk menjadi 4 bek sejajar.
Intinya, semua yang dibuat Uruguay adalah pakem umum sepakbola. Tidak istimewa sebenarnya. Mereka bermain sebagaimana sepakbola dimainkan. Malaysia, Singapura dan Thailand melakukan hal senada — tentu dalam kamus yang lebih sederhana, bukan yang canggih. Tetapi yang mau saya katakan, nafasnya sama!

Bagaimana dengan Indonesia? Seumur hidup saya menyaksikan Indonesia bermain, manajemen permainan standar seperti di atas tak pernah terlihat. Semua selalu sporadis dan acak. Mungkin saja ada latihan pergerakan di latihan, tapi dalam permainan menjadi kabur. Kita belum bicara soal taktik dan strategi yang berada dalam tahapan lanjutan. Ini baru tingkat dasar permainan sepakbola.
Lihat bagaimana M. Ridwan, Benny Wahyudi, Ahmad Bustomi dan Firman Utina sebagai mesin utama di lini tengah tak pernah bergerak bersama, baik naik atau turun. Seringkali, M. Ridwan berlari lebih cepat mengisi sayap kanan di depan sehingga sejajar dengan duet penyerang Boaz dan Bambang Pamungkas. Ini tak salah, tetapi menjadi keliru ketika posisi yang ditinggalkan Ridwan tidak diisi oleh pemain lain. Inilah perlunya rotasi posisi dan saling mengisi yang tak pernah dilakukan timnas Indonesia.
Efek dari sana, timbul pertanyaan ke mana bola harus digulirkan. Dengan skill dan kebugaran fisik yang sangat terbatas, Indonesia tak punya solusi. Bola harus diumpan melambung atau menjadi umpan daerah. Malangnya, itu 2 hal yang sulit dilakukan bila tak punya jam terbang dan skill yang mumpuni.
Indonesia sudah terbiasa kalah, bukan hal aneh dan rahasia. Tapi dari lawan sekelas Uruguay benar-benar sia-sia. Mungkin tujuannya belajar, meski saya tak pernah melihat insan sepakbola tanah air mau belajar dari mereka yang sudah maju dan termajukan. Jika memang ingin belajar, mengapa harus repot-repot melawan Uruguay?
Inikah sebuah sensasi pencitraan kampret PSSI seperti halnya spanduk berjejer di seberang tribun kehormatan?
Kalau mau belajar, mengapa kita tidak melawan Jepang, Korea Selatan atau Iran, misalnya? Mereka juga kelas dunia kok. Atau melawan yang lebih kecil seperti klub Jepang, Uni Emirat Arab atau Korsel.
Yang dibutuhkan timnas Indonesia memang lawan bermutu untuk meningkatkan jam terbang. Tetapi juga tak perlu sekaliber Uruguay. Ini benar-benar sia-sia. Saya yakin, skor melawan Uruguay tak akan menghasilkan apa-apa, kecuali tentu hanya untuk bekal staf pelatih Alfred Riedl.
4 milyar rek!
—
– hedi
ah tipu itu, mik…4m buat korupsi doang
hahah..bagus hed analaisnya….
bsk kalo lawan maladewa kalah..uji coba lawan somalia…apa biafra..pasti menang e..heheh
menyedihkan sepak bola endonesia…
NURDIN…KAPAN KAMU LENGSERRR..????
*ra nyambung yoben!
—
– hedi
somalia punya timnas atau ga, aku ga tau…yg banyak pembajak
Hasil semalam memang tak perlu cenayang utk diprediksi. Indonesia pasti kalah, cuma tinggal hitung seberapa kalah aja
Jadi kesimpulan akhirnya: turunkan Nurdin?! Wakakakakak.
– hedi
—
turunkan nurdin adalah undang-undang dasar
[...] This post was mentioned on Twitter by Moh. Andica Haradi , Hedi. Hedi said: blogpost: lawan Uruguay buat apaan sih?
http://bit.ly/atQkGI [...]
foto spanduk pencitraan itu, gue ada tuh om. mau?
– hedi
hihi
—
simpen aja buat dokumen sejarah gelap PSSI
mungkin sistem Total Football sangat cocok untuk Indonesia,pemain bergerak semua, mengisi kekosongan, bergerak terus, saling mengisi posisi
*ehem* kalau sanggup
Kalo hasil dari analisis saya sih om, permainan seperti itu terbentuk selayaknya kompetisi yang mereka lakukan di dalam negeri (ISL). Contohnya : bek yang selalu tidak tenang dan terburu-buru membuang bola, padahal bola masih sangat mungkin di umpan ke teman lain demi ball possesion dan memulai alur penyerangan.
pemain tengah yang gagap mencari posisi di tengah, pemain indonesia selalu ketakutan jika memegang bola di tengah, dikarenakan teknik menjaga bola yang tidak terampil, justru kemampuan ini yang seharusnya disadari oleh para pemain untuk ditingkatkan, bukan berlatih long pass dan stamina terus menerus. Indonesia terlalu menjaga jarak dengan pemain lawan, padahal secara teori, dengan postur kecil mereka seharusnya berani duel satu lawan satu dengan lawan.
Indonesia bukan kalah stamina, tapi memang permainan mereka yang membuat mereka lebih cepat kehabisan stamina. Yang paling mencolok adalah jika orang luar bermain sepakbola, yang lelah adalah semua pemain, karena semua lini bergerak maju dan mundur seirama, baik bertahan maupun menyerang. Tapi di Indonesia yang lelah adalah selalu pemain belakang, karena tindakan pemain belakang itu sendiri, yang secara cuma-cuma menendang bola ke depan dengan dalih mengamankan pertahanan, padahal jika dicermati lebih jauh, ternyata tindakan ini justru membuat bola lebih cepat lari ke daerah pertahanannya karena penguasaan bola tetap jatuh ke tangan lawan. Alhasil boaz dan bambang pamungkas adalah pemain bola paling beruntung, paling tidak lelah, paling dipuji karena assist dan goalnya, dan paling berjasa karena menyumbang 1 gol.
herannya, seburuk apa pun timnas kita, penonton tetap antusias datang ke senayan. hahaha
Proyek.. proyek.. dan proyek…
Duit.. duit.. dan duit..
keren nich analisanya walau saya nggak pernah melihat serumit itu tapi emang keadaan Timnas Indonesia perlu sangat banyak perbaikan.
tiwas seneng ndelok gol’e Boaz..ehh kalah’e g kira2..:D
[...] buatlah peluang sebanyak mungkin agar ada kesempatan menang. Bandingkan dengan saat lawan Uruguay yang hanya menghasilkan 2 shots on [...]
[...] elite lainnya menjelang Piala AFF 2010 lalu. Mentereng kelihatannya. Namun yang terealisir hanya Uruguay. Yang terbaru, PSSI berkoar-koar akan melakukan pertandingan tak resmi melawan Malaysia. Tanggal [...]