Archive for December, 2010

Malaysia vs Indonesia: 3-0

Tuesday, December 28th, 2010

Begitu timnas Indonesia kalah telak 0-3 dari Malaysia, seketika pula pendukung Indonesia terhenyak. Malaysia yang dihajar 5-1 di Senayan ternyata tampil jauh lebih baik di kandangnya sendiri.

Sebaliknya, banyak orang Indonesia mulai bertanya-tanya bagaimana kualitas tim kita yang menang terus, termasuk dua kali menang besar, ternyata juga bisa kalah besar.

“Tapi itu karena tim kita dikerjai oleh laser pendukung Malaysia.” Saya setuju itu kecurangan. Namun itu menjadi sebuah hal normal dalam pertandingan, apalagi di kandang lawan. Laser pasti mengganggu tapi tidak signifikan apabila pemain punya mental baja. (more…)

Lowongan: Ketua PSSI

Wednesday, December 15th, 2010

Baiklah, hampir semua stakeholder sepakbola nasional punya keinginan sama saat ini. Nurdin Halid turun (atau diturunkan) dari posisinya sebagai orang nomor satu di PSSI. Sudah harga mati!

Meski misi mendepaknya belum terwujud, orang tetap memulai perhitungan siapa yang kira-kira pantas menggantikannya. Bagaimana kriterianya dan latar belakangnya. Pokoknya A-Z dicermati. Dan sampailah orang pada nama-nama. Pada figur.

Inilah mungkin letak kekeliruan kita. Orang Indonesia selalu terjebak pada figur ternama. Pada tokoh. Pada pemimpin non formal. Sekian lama, terutama pada masa orde baru, kita dijejali sebuah pakem bahwa pemimpin organisasi (harus) seorang tokoh publik. (more…)

Indonesia vs Thailand: 2-1

Wednesday, December 8th, 2010

Saya memang pelit memberi label “bagus” untuk permainan Indonesia. 2 kali menang besar, saya hanya menyatakan Indonesia bermain lebih baik dari lawan. Indonesia mampu mengambil keuntungan dari kesalahan lawan.

Bukan apa-apa, jujur saja. Timnas Indonesia memang belum mampu bermain bagus. Umpan yang sering salah sasaran, koordinasi lini belakang yang berantakan dan stamina yang terkesan dipaksakan hingga beberapa pemain mengalami kram.  (more…)

Indonesia vs Laos: 6-0

Monday, December 6th, 2010

Timnas menang besar lagi. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bahkan terus terang saya sempat lebih khawatir pada Laos ketimbang Thailand. Permainan Laos melawan Thailand menjadi alasan pertama. Kedua, timnas kerap merosot di laga kedua sebuah turnamen — sebuah situasi klasik.

kerapatan zona Laos (mark kuning), bandingkan dengan Indonesia (mark hijau)

Secara keseluruhan, Indonesia sebenarnya tidak bermain lebih baik dari laga pertama. Justru sempat tidak berkembang. Umpan tak mencapai sasaran, pergerakan pemain yang kaku dan disiplinnya Laos selama 20 menit pertama. Kunci permainan apik Laos adalah betapa disiplinnya mereka berkumpul dengan sedikitnya 4 pemain setiap menguasai bola. Aliran umpan mereka begitu rapi. Dua gelandang mondar-mandir menjaga kerapatan zona dengan bergerak ke kanan dan kiri.

(more…)