RSS You're reading Indonesia vs Malaysia: 5-1 article on sekadarblog

Indonesia vs Malaysia: 5-1

Pertama, saya harus memberi pujian kepada pelatih Alfred Riedl. Bukan hanya karena Indonesia menang, tetapi ada beberapa hal bagus darinya buat tim nasional Indonesia.

Baru kali ini, dalam 1 dekade terakhir, saya melihat Indonesia tak pernah melakukan tekel ngawur bin kasar. Bahkan “Merah Putih” cuma mendapat 1 kartu kuning. Itu pun bukan karena tekel, tetapi akibat dianggap terlalu lama mengeksekusi bola mati.

Riedl juga berhasil membuat Indonesia melakukan serangan dengan lebih dari 3 pemain ketika bermain offensif. Sebenarnya ini sudah kelihatan waktu timnas menghajar Timor Leste di partai pemanasan kemarin dulu. Hasilnya, dari 10-15 menit awal permainan saja, Indonesia sudah punya 3 shots on Malaysia’s goal. Skema standar 4-4-2 berubah 4-3-3 ketika tim menguasai bola di daerah 16 meter.

Pendeknya, Riedl tahu apa yang harus dilakukan sesuai dengan proporsi dan situasi yang ada.

Tapi Riedl juga tak kuasa untuk merevolusi pakem sepakbola Indonesia secara total. Tentu saja, itu bukan gawean dia. Orang Austria dengan ras Yahudi itu bukan dalam kapasitas membenahi skill umpan, fisik, stamina dalam skala makro.

Tak ada pelatih nasional di dunia ini yang mengurusi tehnik dasar pemain. Proporsi kerjanya lebih banyak menggodok taktik dan menjaring pemain yang pas dengan strategi permainannya. Tugas membina tehnik dasar pemain adalah milk pelatih klub.  Itu sebabnya, untuk kasus Indonesia, bila timnas gagal di turnamen maka yang harus tanggung jawab pula adalah pelatih-pelatih klub.

Umpan adalah kelemahan mendasar pemain Indonesia. Firman Utina berkali-kali gagal mengoper bola. Maman Abdulrahman, Zulkifili atau M. Ridwan sering tak jelas mengoper pada kawan atau ingin membuang bola.

Saya lebih suka pemain Indonesia tak punya kecepatan dan skill menggiring bola seperti Oktavianus Maniani atau kelicahan model Irfan Bachdim, tapi mengoper secara akurat setiap saat.

Bila pemain Indonesia jarang melakukan kesalahan elementer seperti itu, saya yakin Indonesia punya potensi berbicara di Asia — bukan hanya Asean!

Tapi kesalahan umpan boleh jadi disebabkan oleh jarak antar pemain yang tidak ideal. Sering sekali Okto, Firman atau Ridwan harus menunggu kawan mendekat untuk mengoper bola. Bila waktu terlalu lama, bola terpaksa diangkat melambung. Dan bola lambung adalah satu-satunya tendangan yang sulit akurat. Inggris yang rajanya bola lambung pun sering gagal. Apalagi Indonesia?

Saya tak tahu pasti apakah posisi antar pemain yang saling berjauhan itu karena disengaja mengingat keterbatasan stamina pemain Indonesia. Tebakan saya, pemain kita memang belum paham rotasi posisi antar pemain. Pemain Indonesia juga tak mampu bergerak setiap saat untuk melepaskan diri dari kawalan lawan sekaligus mencari tempat kosong agar kawan bisa mengalirkan bola. Saya berharap apa yang ditunjukkan Irfan Bachdim bisa dicontoh pemain lain.

Irfan adalah satu-satunya pemain yang bergerak sangat aktif. Dia rajin membuka ruang dan menarik bek lawan dari zonanya. Tiga dari lima gol Indonesia adalah berkat andil dia secara tak langsung, plus satu gol hasil aksinya sendiri.

Apapun, ini baru pertama. Indonesia selalu bagus ketika memainkan partai pertama. Piala Asia 2007 adalah contohnya. Berikutnya grafik selalu menurun, semoga di AFF 2010 ini tak terulang. Besok masih ada Laos yang ternyata kini mulai menyejajarkan diri dengan tim-tim langganan.

© photo: @raymantika

Ϡ

22 Responses to “Indonesia vs Malaysia: 5-1”

  1. didats says:

    waktu jaman siapa gitu,
    tiap ada pemain pegang bola, selalu ada yang nyamperin untuk minta bola.

    tapi jeleknya, fisiknya gak sampe 75 menit udah terkuras :D

    jaman fachry husaini & ansyari lubis, jelas stamina pasti abis karena harus rajin bergerak :) – hedi

  2. nothing says:

    hihi, ya ya. umpan akurat cen jauh dari angan. begitu juga dengan tendangan jarak jauh yang mengarah, akeh melambung e :)
    perlu latihan terus

  3. Epat says:

    loh tibake dilatih wong yahudi ya?
    *njukngopo? kekeke

    dan Indonesia selalu apik lek dilatih yahudi; wiel coerver, pogatnik, polosin, kolev :D – hedi

  4. goop says:

    *lirik mas epat*
    waaaa, kalau fakta ini diuraikan apa memengaruhi dukungan pada Timnas, ya? semoga saja tidak…

    Omong-omong, jarak antar pemain itu juga menjadi perhatian Towel, halah!

    Omong-omong lagi, Mas, bagaimana pendapatnya dengan 3 gol bukan dari pemain ‘asli’ Indonesia dan ‘cuma’ 2 gol yang disarangkan pemain ‘asli’. Apa boleh kita mempermasalahkan persoalan ini? Bukankah sepakbola adalah permainan tim, jadi biarpun itu pemain naturalisasi memberikan warna, tetap saja kredit layak untuk seluruh tim.

    Namun, Goal di sisi yang lain adalah buah karya individu, jadi apa kemungkinan bila–misalnya–Irfan tak ada?

    waaa panjang :D

  5. nothing says:

    Front kae yo mudeng masalah yahudi ning sepakbal indoensia? wah GBK berpotensi di gruduk :)

  6. […] This post was mentioned on Twitter by Anindita Putri, aditya suryakusuma, hdikhaizan, suporter indonesia, zen.rs and others. zen.rs said: RT @hedi Blog post: Indonesia vs Malaysia; masalah klasik kita adalah UMPAN! http://bit.ly/eksWiP […]

  7. adhi says:

    Uraian diatas sangat baik, saya hanya menambahkan ttg koordinasi di lini belakang jg perlu dibenahi, saya liat cuplikan laos vs thailand ..striker laos sangat lincah, mudah2an dapat diatasi oleh instruksi alfred riedl yang diikuti oleh pemain belakang di lapangan.


    betul mas :) – hedi

  8. oyeen says:

    mantap, maju terus indonesia :)

  9. Fadly Furqon says:

    walau begitu tadi malam Indonesia bermain sangat bagus, meski harus kebobolan tapi INA bisa membalasnya dengan sangat menyakitkan :)
    buat saya kekurangan Indonesia hanya masalah stamina dan lini belakang, kadang suka berantakan dan panik ..
    semoga Indonesia masuk final .. amiin :)

    kalo sangat bagus, tentu belum bisa dibilang gitu :) – hedi

  10. Zeph says:

    permainan lawan Malaysia kemarin, Timnas Indonesia memang terlihat lebih matang… semoga ini menjadi awal yang baik.

  11. ayip.eiger says:

    Kalo menurut saya, bukan karena stamina Indonesia yang mudah lelah sehingga sangat jarang menjemput bola. Tapi karena pemain Indonesia tidak terbiasa mencetak gol dengan mengalirkan bola dari lini per lini. Seperti yang terjadi di ISL, kebanyakan Gol terjadi karena umpan lambung ke pemain depan dan dibawanya lari cepat2 ke arah gawang. Di ISL tim yang mampu menciptakan goal dengan permainan dari lini ke lini baru Arema, Persipura dan Sriwijaya. Contoh saja Barcelona pasti semua orang di dalam timnya hampir memliki porsi waktu yang sama dalam memainkan bola selama pertandingan.

    Kalo Ronald Fagundes bisa bergabung dengan timnas, pasti Indonesia bakal berbicara banyak di AFF ini… (jadi inget masa jaya2ny Persik Kediri)

  12. ichanx says:

    oke deh… indonesia bagus… tapi, ya si nurdin halid makin merasa dia berjasa dong… *serba salah*


    masa sih chanx? :P – hedi

  13. kurniasepta says:

    tak sabar menunggu pertandingan selanjutnya :)

  14. bangsari says:

    nyesel ra nonton

  15. stey says:

    saya nyesel karena nonton pas gol ketiga.. tapi saya seneng karena kita menang..:D

  16. rotyyu says:

    Kalau mainnya konsisten seperti ini, Timnas bisa jadi juara AFF. Hidup timnas!

  17. Akbar says:

    Setuju mas, passing passing passing, masalah elementer yg udah ngelumut di timnas kita. Sy inget Peter Withe pernah bingung knp dia harus ‘turun’ jauh utk ngajarin gimana passing yg bener. Tapi emg main dgn passing pendek, cepat, mirip lini tengah tim-tim Eropa butuh stamina yg juga kuat. Hehe. Semoga cepat lambat Indonesia bisa ngadopsi gaya main yg modern

    pemain kita ga bisa ngumpan bener karena dari kecil ga ditangani pelatih yang baik, rata2 pemain kampung, bukan SSB – hedi

  18. Setuju seharusnya pelatih club juga mengandalkan pemain2 tengah lokal supaya terasah kemampuannya

    salam kenal dari tjah”goblog”
    ciao

  19. Setuju mas, passing passing passing, masalah elementer yg udah ngelumut di timnas kita. Sy inget Peter Withe pernah bingung knp dia harus ‘turun’ jauh utk ngajarin gimana passing yg bener. Tapi emg main dgn passing pendek, cepat, mirip lini tengah tim-tim Eropa butuh stamina yg juga kuat. Hehe. Semoga cepat lambat Indonesia bisa ngadopsi gaya main yg modern — pemain kita ga bisa ngumpan bener karena dari kecil ga ditangani pelatih yang baik, rata2 pemain kampung, bukan SSB – hedi

  20. Kris Pearson says:

    Setuju mas, passing passing passing, masalah elementer yg udah ngelumut di timnas kita. Sy inget Peter Withe pernah bingung knp dia harus ‘turun’ jauh utk ngajarin gimana passing yg bener. Tapi emg main dgn passing pendek, cepat, mirip lini tengah tim-tim Eropa butuh stamina yg juga kuat. Hehe. Semoga cepat lambat Indonesia bisa ngadopsi gaya main yg modern — pemain kita ga bisa ngumpan bener karena dari kecil ga ditangani pelatih yang baik, rata2 pemain kampung, bukan SSB – hedi

  21. MasBagong says:

    Betul sekali. Kelemahan pemain2 Indonesia adalah teknik dasar. Bukannya mereka tidak menguasai melainkan mereka tidak menguasainya dengan benar. Sy lihat banyak sekali SSB (sekolah sepakbola) yg memberikan materi teknik dasar sekedarnya saja. Padahal kalau para pelatih dibekali ilmu Biomekanik, mereka akan menyadari bagaimana cara menendang bola datar atau melambung dengan benar. Terlebih lagi secara efisien dan akurat.

    Sy ingat ayah sy (alm) yg pendidik sepakbola dan dosen seringkali melarang mahasiswanya bermain lapangan penuh pada semester pertama mereka mengambil mata kul ‘pembinaan sepakbola’. Satu semester pertama mahasiswa digembleng dgn teknik dasar. Hasilnya, pernah menjadi juara 2 kompetisi mahasiswa se Jawa….dikalahkan oleh sebuah univ yg hampir semuanya adalah pemain liga.

    Dan seharusnya pemain juga (sejak dini) dilatih ‘decision-making’ yang memadai. Dengan kata lain seorang pemain bola harus cerdas karena dia harus bisa melakukan keputusan yang cepat dan tepat: apakah bola harus dioper ke teman, harus ditembak langsung, harus digiring, dst..

    Pada akhirnya: “Soccer is science” dan menurut Johan Cruff “bermainlah sepakbola seperti anak-anak yg dengan riangnya bermain dgn mainan mereka”

  22. […] Riedl, serangan dibuat dari berbagai arah. Jumlah pemain yang masuk ke dalam kotak penalti lawan bisa lebih dari […]

Leave a Reply