ketika sepakbola bikin penasaran

Timnas menang besar lagi. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bahkan terus terang saya sempat lebih khawatir pada Laos ketimbang Thailand. Permainan Laos melawan Thailand menjadi alasan pertama. Kedua, timnas kerap merosot di laga kedua sebuah turnamen — sebuah situasi klasik.

kerapatan zona Laos (mark kuning), bandingkan dengan Indonesia (mark hijau)

Secara keseluruhan, Indonesia sebenarnya tidak bermain lebih baik dari laga pertama. Justru sempat tidak berkembang. Umpan tak mencapai sasaran, pergerakan pemain yang kaku dan disiplinnya Laos selama 20 menit pertama. Kunci permainan apik Laos adalah betapa disiplinnya mereka berkumpul dengan sedikitnya 4 pemain setiap menguasai bola. Aliran umpan mereka begitu rapi. Dua gelandang mondar-mandir menjaga kerapatan zona dengan bergerak ke kanan dan kiri.

Tetapi gol penalti Firman Utina adalah titik tolak kebangkitan pasukan Alfred Riedl sekaligus memukul mental pemain Laos. Selepas gol kedua oleh M. Ridwan, praktis permainan menjadi milik timnas Indonesia. Awal babak kedua, saya melihat lini pertahanan Laos dinaikkan sedikit. Artinya Laos akan menyerang penuh. Tetapi strategi itu menjadi bencana karena di saat bersamaan timnas juga mengusung hal yang sama.

Terima kasih Indonesia!

Terlepas dari menang besar, Indonesia masih punya masalah yang belum terpecahkan. Lini kedua Indonesia selalu kosong. Andai lawan punya gelandang yang pintar menempatkan posisi, ini bisa menjadi bencana bagi timnas karena serangan balik akan langsung menemui pertahanan Indonesia yang sering panik ketika menerima serangan lawan.

Di Twitter, saya membaca sebuah twit yang kira-kira mengatakan Indonesia mencetak banyak gol karena lawan membuat kesalahan. Ini benar. Tapi poinnya bukan di situ. Anda menang main catur pun adalah karena lawan melakukan kesalahan langkah. Namun poin yang harus digarisbawahi adalah bagaimana Anda atau timnas bisa memanfaatkan kesalahan itu.

Untuk Indonesia Raya

Selama ini, timnas selalu gagal memanfaatkan itu. Sebaliknya, lawan kerap memanfaatkan kesalahan kita untuk memetik kemenangan.

Namun di sisi lain, fokus saya juga tak sepenuhnya pada pertandingan. Saya terkejut mengetahui fakta bahwa PSSI menyewa tukang pukul. Tugas mereka ada 2; pertama adalah mengawal Nurdin Halid dan kedua menjaga spanduk pencitraan tetap terpasang di stadion.

spanduk terpasang

Saya tak habis pikir mengapa PSSI harus menyewa tukang pukul. Apakah ada orang atau suporter yang akan menjahili Nurdin. Lagi pula kantor PSSI yang dikawal polisi itu sudah cukup untuk menahan orang-orang yang berniat jahat di sana.

Spanduk yang kami bawa awalnya dilarang dipasang. Akhirnya dengan sedikit strategi, spanduk itu terpasang sekitar lima menit sebelum dilepas oleh pengawal bayaran Nurdin Halid. Agak miris jika kami harus berkelahi dengan mereka. Ini sama saja dengan diadu domba oleh Nurdin. Inilah yang harus disadari oleh para suporter. Sebaiknya tidak meladeni dengan adu fisik, tapi difoto dan sebarkan.

Kini, Nurdin benar-benar sudah terpojok. Indonesia juara adalah harga mati. Tetapi melihat Nurdin turun dari singasananya adalah harga yang tak bisa ditawar lagi.

§528 · December 6, 2010 · Piala Asean, Sepakbola Indonesia · Tags: , , , , , · [Print]

6 Comments to “Indonesia vs Laos: 6-0”

  1. Klanjabrik says:

    Salut buat temen2 yang mengibarkan spanduk “Lindungi Indonesia dari Godaan Nurdin yang Terkutuk”, walaupun cuman 5 menit, anggap aja sebagai agitasi untuk 5 menit berikutnya. maju Indonesia!

  2. [...] This post was mentioned on Twitter by Meirza Arson, phijhoe and irfan afif, Hedi. Hedi said: Blog update: Cakepnya zona pendek merapat Laos, tapi tak cukup kuat menahan laju Indonesia http://bit.ly/gkBUjm [...]

  3. Chic says:

    spanduk di sita? bikin lagiiiiii :mrgreen:

  4. aRuL says:

    iyah awal2 permainan Indonesia belum maksimal, setelah itu semangat kuda hehe

    btw semoga spanduk diberikan tempat yg layak di sisi Nurdin Halid hehe

  5. ayip.eiger says:

    Wah saya pikir yang patut di acungi jempol adalah stamina Timnas yang tidak kedodoran hingga akhir pertandingan. Mereka tetap memberikan tekanan kepada pemain Laos, hal ini yang memicu terjadinya kesalahan2 di tubuh lawan, mirip waktu lawan Malaysia.

    Seperti analisa saya dulu, sebenarnya stamina Indonesia sudah cukup baik, asalkan ball posession bisa terbagi rata di semua lini, nggak seperti dulu,pemain depan macam bambang dan boaz cepat kehilangan bola sehingga memaksa Indonesia harus lebih sering bertahan, alhasil stamina Indonesia terlihat terkuras di babak kedua. Ini adalah momentum bagi persepakbolaan nasional untuk menemukan ciri khas permainannya.. Bertahan gaya Indonesia, menyerang gaya latin dan eropa.


    stamina relatif baik, ga cuma sampai menit 60-70. tapi itu karena ada dorongan semangat baja & hasil pelatnas, bukan hasil pembinaan reguler. stamina yang dipaksakan itu terlihat ada pemain yang kram – hedi

  6. efahmi says:

    judulnya keliru, harusnya bukan indonesia vs laos, tapi indonesia vs nurdin :D

    hahaha – hedi

Leave a Reply