RSS You're reading Gagal Juara (Lagi) article on sekadarblog

Gagal Juara (Lagi)

Timnas Indonesia gagal lagi? Itu sudah biasa. Kemenangan besar yang melahirkan euforia terhadap nasionalisme & sepakbola nasional pun tak membantu. Pada akhirnya, hitungan matematis bahwa level permainan Indonesia masih belum bisa melahirkan gelar juara adalah sahih.

Lho tapi kan itu karena ada intervensi non teknis? Betul, hal itu sudah saya ungkap di Twitter dan kemudian dikompilasi oleh Qronoz. Tapi jangan lupa juga bahwa apapun tetap teknis yang berbicara.

Permainan timnas adalah gambaran permainan di kompetisi domestik. Bagaimana klubnya bermain maka akan demikian pula timnasnya bermain. Coba lihat bagaimana Juventus bermain, maka Gli Azzurri pun akan begitu pula cara mainnya.

Yang membedakan hanyalah soal strategi pelatih masing-masing. Nafasnya akan tetap sama. DNA tak bisa ditipu dan tak mungkin berbohong.

Permainan Indonesia yang mengandalkan umpan diagonal, umpan lambung atau umpan terobosan sudah biasa dilihat di Liga Indonesia (LSI). Tim-tim LSI sangat terbiasa melupakan permainan sabar melalui lini tengah. Apalagi tim di LSI umum menggunakan 3-5-2 yang menitikberatkan serangan pada sayap.

Di LSI atau bila dipakai antar sesama dengan tim lokal, skema dan gaya main umpan panjang itu kelihatan efektif. Begitu timnas atau tim kita bermain dengan tim asing, maka mereka akan menemui kebuntuan.

Pakai pemain naturalisasi pun sama saja. Inti penyakitnya bukan di situ. Menaturalisasi pemain dengan standar Asean ya sama saja. Lihatlah Filipina yang tetap saja mentok di semifinal. Kalau mau naturalisasi ya yang kelas dunia saja sekalian. Atau seperti ide mustahil saya dulu, kenapa tidak naturalisasi saja orang untuk jadi pengurus PSSI?

Berkali-kali saya katakan apabila timnas gagal maka yang perlu dimintai pertanggungjawaban adalah klub. Sehari-harinya, pemain timnas ada di klub dan berlatih serta bermain di sana. Perilaku, penempaan meental, skill dan mental lebih sering ditangani klub.

Melihat Malaysia menjadi juara, saya menjadi mahfum. Mereka juga berjaya di cabang sepakbola SEA Games. Mereka juara dari kompetisi yang rapi, teratur, benar dan tidak menggunakan pemain asing. Walau tak selalu bergaris lurus, tapi setidaknya itu bisa menjadi jaminan.

Kini saya hanya berharap akan ada orang yang mau mengurai kekusutan sepakbola kita. Peran kita semua hanyalah perlu mendukung timnas kapanpun mereka bertanding. Simpanlah harapan Anda, karena hanya hal itu yang harus kita pelihara.

© Photo: AFF Suzuki Cup 2010

Ϡ

8 Responses to “Gagal Juara (Lagi)”

  1. Akbar says:

    Mas, ulas tentang politisasi beserta ‘alien2′ di PSSI dong :) Ah kebiasaan crossing yg ga jelas itu keliatan bgt dari frekuensi seringnya Zulkifli ngirim umpan silang yg menurut saya masih jauh dari keperluan. Mestinya ada inisiatif utk pegang bola selama mungkin, main dari kaki ke kaki, lini per lini, bangun serangan bertahap, ga main direct melulu. Juga Firman saya sorot sering bgt ngelepas umpan yg lebih mirip kyk lagi latihan corner atau crossing. Harusnya bisa bedain ini stagenya udah stage turnamen, ga bisa bawa kebiasaan jelek gitu ke lapangan.

  2. Nazieb says:

    Alhamdulillah timnas gagal juara..

    Saya rasa ini bantingan yang cukup keras bagi setan-setan PSSI. Meski mungkin ketebalan muka mereka masih cukup untuk tidak membuat mereka langsung bunuh diri, setidaknya hal ini bisa jadi alasan yang kuat untuk mencopot manusia jahanam Nurdin Halid di pemilihan ketum PSSI nanti.

  3. andinoeg says:

    sauatu saat harus jadi juara

  4. ayip.eiger says:

    Itulah kenapa kita perlu reformasi PSSI, mereka ga paham sampai sedetil ini. Mereka hanya memahami dari sisi bisnis yang bisa dikeruk dari perhelatan ISL. Sebenarnya, kalo mutu kompetisi ISL bisa dibenahi saya yakin sepakbola bakal menjadi industri yang sangat besar seperti halnya di Brazil. Sayang, PSSI melalui Ketum nya sudah merasa bahwa ISL telah sempurna, menjadi terbaik di ASEAN. Padahal juara kita cuma pincang jika beradu bersama klub-klub asing.

    Tapi melihat dari mutu pembinaan sepakbola di Indonesia, nampaknya ada sesuatu yang hilang dari teori permainan sepakbola, “pergerakan yang efisien”.
    Trus kalo saya cermati kenapa ISL tidak menerapkan aliran bola2 pendek dari lini ke lini, itu karena permainan di ISL sangat keras. Sangat sulit bagi seorang pemain untuk melakukan penetrasi di lini tengah, sekalipun pemain asing latin.

  5. hitamputih says:

    Hanya PSSI yang patut disalahkan…
    sebab dialah yang merancang liga Indonesia yang pada akhirnya menelurkan “mental bertanding yang salah” dari para pemain timnas…

  6. devieriana says:

    Lihat pertandingan final kapan hari walaupun hanya di depan televisi berasa sangat horor, bahkan lebih horor dari film horor :D.

    Menurut saya pertandingan yang kemarin itu dahsyat banget, dahsyat buat yang main, dahsyat buat semua yang menonton. Bisa “guyub” banget gitu. Apapun yang terjadi di balik kisruhnya PSSI, semoga “keguyuban” itu sifatnya nggak musiman ya.. :)

  7. […] Games 2011. Tapi itu tidak cukup karena diperlukan juga “bagus” di akhir. Hal itu juga dialami timnas senior asuhan Alfred Riedl di AFF 2010 lalu. Terus terang, tim U23 saat ini hanya bagus […]

Leave a Reply