RSS You're reading Saya bukan Aktivis article on sekadarblog

Saya bukan Aktivis

Booming sepakbola di kalangan pengguna twitter Indonesia terjadi saat tim nasional bermain di Piala AFF 2010. Nyaris semua orang membicarakan Cristian Gonzalez dan kawan-kawan.

Beberapa kali Trending Tropic memunculkan kata-kata timnas, Irfan Bachdim atau Gonzalez. Pokoknya semua berbau timnas. Sayang, riuhnya kicauan belum sanggup memengaruhi perjalanan timnas yang mentok sampai di final.

Selepas Piala AFF, bahasan sepakbola nasional di twitter belum berhenti. Kali ini topiknya hanya 2; PSSI dan Nurdin Halid. Isinya, meminta Nurdin turun dari kursi ketua umum. Bahkan secara sporadis, isu itu masih abadi.

Sejak memulai nge-twit pada 2007, saya lebih sering bicara soal sepakbola. Bahkan tak hanya sepakbola Indonesia, tetapi juga sepakbola dari kawasan lain. Apa saja yang menyangkut sepakbola selalu saya twit.

Tetapi akibat twit series saya soal undercover keterlibatan orang-orang tak jelas di tubuh timnas, saya seakan-akan mendapat ekspektasi. Saya bahkan menilai diri saya overrated. Hingga saat ini.

Twit saya mengenai PSSI dan segala tindak tanduknya membuat orang mengira saya akan ikut dalam gerakan menurunkan Nurdin. Saya (mungkin) juga dianggap pro kepada Liga Primer Indonesia (LPI). Padahal sejatinya tidak demikian.

Sejak awal, saya hanya ingin bersikap niche. Di ranah blog, saya cuma mengupas sepakbola dan kemudian saya sambung di twitter. Tetapi dunia blog sejatinya adalah tempat berbagi apa saja. Kebetulan saya sedikit paham soal sepakbola. Tapi bukan berarti saya ingin terjun ke dunia praktis sepakbola. Demikian pula dengan twitter yang pada awalnya adalah media untuk menyebar pesan. Berkomunikasi.

Apa yang saya tulis dan twit hanya sekadar berbagi tentang kedalaman, tentang fakta dan data sebuah situasi di luar teknis permainan. Saya ingin orang tahu tanpa ada unsur agitasi atau ajakan. Apabila kemudian hasil tulisan saya menggugah orang lain untuk bergerak membenahi situasi, itu adalah hak semua orang. Dan saya tak selalu harus ikut.

Twitter menjadi sebuah sarana untuk menyampaikan pesan dengan cepat, tak peduli seberapa banyak follower Anda. Pesan akan menyebar cepat ketika twit Anda menarik dan mungkin ada beberapa orang yang berkepentingan dengannya. Namun efek penyebaran pesan itu bisa tak terduga. Bisa bagus untuk Anda, bisa juga sebaliknya.

Saya sering mengupas PSSI, tapi tidak berarti ingin menjadi pengurus PSSI atau penggerak revolusi PSSI. Saya tak cukup punya bekal untuk menjadi aktivis. Saya masih bermental kacung. Seperti halnya wartawan Inggris yang terus mengkritisi sebuah klub. Bukan berarti dia ingin menjadi pengurus klub itu. Si wartawan dalam twitnya cuma ingin berbagi kabar. Itu pula yang saya lakukan, sejauh kabar itu benar dan memang layak diketahui orang lain.

Ϡ

5 Responses to “Saya bukan Aktivis”

  1. Tukang Ketik says:

    oh.. come on man… don’t talk about yourself. Udah… Bahas lagi Nurdin dan LPI bung, ga usah pusingin orang ngomongin apa, hehehe….

  2. snydez says:

    vote hedi for bapak reformasi pssi online :D :D
    *jaman sekarang trendnya jadi bapak 2.0

  3. Aggy says:

    aahh….kadang @hedi ini terlalu humble. salute boss! :)

  4. galihsatria says:

    Hehehe, selamat memasuki dunia selebtwit mas, saya membaca artikel ini sebagai kegalauan seseorang yang tiba-tiba menjadi selebtwit dengan ribuan follower. Sepertinya memang tetap asyik tidak menjadi apapun, tapi menjadi diri sendiri. :mrgreen:

  5. phery says:

    ayo kupas masalah revolusi pssi yang lagi rame ini mas

Leave a Reply