RSS You're reading Pelajaran dari Dortmund article on sekadarblog

Pelajaran dari Dortmund

Jika Anda bertanya pada orang Jerman tentang pertandingan mana yang harus ditonton, maka jawabannya St. Pauli — baik dengan maksud eksplisit atau sindiran. Tapi jika pertanyaannya dimodifikasi menjadi “di mana menonton sepakbola paling enak”, maka orang Jerman akan menunjuk Signal Iduna Park, kandangnya klub jawara Bundesliga musim ini — Borussia Dortmund. Yang ini, jawaban tulus, bukan sindiran.


Orang Jerman begitu menghormati Dortmund — tentu saja fans Schalke 04 belum tentu demikian, maklum, mereka adalah revierderby alias rival sewilayah. Derby mereka selalu panas. Tetapi secara umum, Dortmund adalah tolok ukur kesuksesan klub Jerman. Kesuksesan yang bukan hanya diukur dari deretan trofi di hall of fame mereka.

Sebagai klub sepakbola, Dortmund punya banyak cerita unik dan lengkap. Di dalam lapangan maupun di luar lapangan, teknik dan non teknik. Mereka bukan saja pernah merasakan bagaimana klub berada di titik nadir, tapi juga punya sejumlah gelar juara bergengsi. Cerita lengkap sejarah mereka silahkan dibaca di Wikipedia saja. Saya lebih tertarik pada ihwal kebangkitan mereka.

Tahun 2003, Dortmund hampir masuk dalam administrasi. Sebuah tahap mengerikan bagi klub yang sudah dinyatakan “menuju pailit” oleh pengadilan. Publik Jerman, mungkin juga sebagian Eropa, terhenyak. Dortmund, klub pertama dan satu-satunya di Jerman yang sudah go public, terancam gulung tikar.

Westfalenstadion, sebelum ganti nama Signal Iduna Park — stadion terbesar di Jerman dengan kapasitas 80.700 penonton, terpaksa dilego ke kelompok real estate. Dana yang bisa dijaring dari bursa efek juga menciut drastis. Tahun 2005, situasinya makin buruk. Untuk membayar gaji personil yang sangat besar, mereka harus berutang ke lembaga finance Stanley Morgan.

Pendeknya, menurut analis keuangan Eropa, Dortmund mengalami kegagalan manajemen danngawur dalam transfer pemain. Kisahnya mirip dengan Leeds United.

Suporter Dortmund kemudian menggelar unjuk rasa besar-besaran. Mereka menuntut klub tidak dijual ke investor baru. Dan itu berhasil. Tetapi syarat dari pemilik saham adalah harga mati: manajemen klub harus dirombak total. Presiden klub diganti oleh seorang lawyer, Reinhard Rauball. CEO dipegang Hans-Joachim Watzke. Dua figur inilah yang sepakat merestrukturisasi keuangan Dortmund. Simak apa kata Watzke soal Dortmund:

“We have problems, because our success was not as we hoped. Perhaps we spent money that we don’t have. We thought that we could be in the Champions League for many years.”

Titik balik situasi sesungguhnya terjadi setelah Dortmund membuat kampanye “Wir sind die Dortmunder” (Kita adalah Dortmund). Kampanye ini mendapat dukungan dari seluruh komponen kota Dortmund: warga, pebisnis, pemda. Mereka bersatu menyelamatkan klub dari kebangkrutan. Tahun 2008, laporan keuangan tahunan Dortmund dinyatakan “prospektif” dan “sembuh” dari kebangkrutan.

Mulai 2008, kepercayaan diri Dortmund kembali. Lihat bagaimana mereka berani menolakBeate Uhse, jaringan toko seks, yang berniat menjadi sponsor. Padahal saat itu, Dortmund butuh duit. Lalu, dengan uang pinjaman Stanley Morgan yang tenornya 15 tahun itu, Dortmund membeli kembali (buy back) Westfalenstadion dari konsorsium real estate dan mengikat kontrak dengan Signal Iduna untuk sponsor nama stadion (leasing) bernilai 4 juta euro per tahun sampai 2016.

Keahlian duet Rauball dan Watzke dalam kebijakan finansial memang jempolan. Mereka memaksa sponsor agar mau mengikat kontrak jangka panjang. Contohnya, mitra komersial Sportfive yang diikat selama 20 tahun. Sponsor kostum Evonik dikerangkeng sampai 2013 dengan nilai 7 juta euro per tahun. Menurut konsultan sport StageUp, income tim-tim Jerman dari sponsor kostum lebih tinggi dari klub-klub di Liga Primer Inggris.

Kini, Dortmund punya barisan sponsor Signal Iduna, Evonik, Kappa, Feinkost, AWD, Coca Cola, Raderberger dan Sparda Bank. Nilai total per tahun mencapai 60 juta euro! Angka terbesar yang pernah diraih Dortmund sepanjang sejarah.

Setelah keuangan stabil, mereka mulai membenahi skuad. Pelatih bertangan dingin Juergen Klopp direkrut dari Mainz pada 2008. Asal tahu saja, Klopp saat itu dikejar oleh sedikitnya 6 klub Jerman karena berhasil mengantar Mainz promosi dengan catatan statistik: terbaik dalam hal kesuksesan tekel dan penguasaan bola!

Klopp dijelaskan tentang visi Dortmund. Dia setuju dan mendapat mandat penuh dalam transfer pemain. Barisan pemain lama bergaji besar dibuang. Mulai dari penyerang Alex Frei sampaiplaymaker Tomas Rosicky. Gantinya, kebijakan beli murah dimulai. Lihat saja bagaimana Dortmund percaya diri membeli pemain usia 21 tahun Shinji Kagawa dari J-League dengan harga 350 ribu euro. Pemain Jepang ini pun akhirnya menjadi favorit suporter Dortmund lantaran sukses mencetak 2 gol ke gawang rival, Schalke!

Bukan cuma Kagawa yang masih belia. Ada Nuri Sahin (musim depan pindah ke Real Madrid), Kevin Grosskreutz, Mats Hummels, Mario Goetze, Steve Bender, Marcel Schmelzer, Neven Subotic dan Robert Lewandowski. Mereka, yang usianya di bawah 25 tahun itu, dicampur dengan pemain berpengalaman seperti kapten Sebastian Kehl, Roman Weidenfeller dan Patrick Owomoyela — pemain yang sudah tampil dalam 600 pertandingan di divisi atas Jerman.

Perhatikan bagaimana Dortmund tidak melupakan pemain tua untuk menularkan mental dan pengalaman kepada pemain muda. Dengan komposisi skuad seperti itu, Klopp mengembangkan permainan menyerang nan cepat dan agresif. Pers Jerman menyebut permainan Dortmund: enak dilihat.

Dortmund bukan hanya membenahi manajemen keuangan dan skuad, tetapi juga akademi. Mereka maklum bahwa stabilitas prestasi tidak bisa hanya dibebankan pada pembelian pemain. Mereka juga harus bisa memproduksi pemain sendiri. Saat ini, Akademi Sepakbola BVB fokus membina pemain di rentang usia 19 tahun sampai 23 tahun.

Dari Dortmund, kita bisa ambil benang merah bahwa sepakbola adalah sebuah proses tiada henti. Tak ada yang instan. 2003-2005 dinyatakan pra-bangkrut, 2008 bangkit dan 2011 juara Bundesliga dengan kondisi keuangan yang mengagumkan. Mungkin tidak bisa sama persis akan begitu ceritanya jika sebuah klub ikut cara serupa. Sebab, keberhasilan sebuah klub dipengaruhi oleh aneka faktor. Dortmund berhasil karena mampu mengambil langkah-langkah yang sesuai dengan aneka faktor tersebut. Mereka jeli dan mungkin juga cerdik.

* tulisan ini pertama kali tayang di DetikSport

© image: Bundesliga.net

Ϡ

4 Responses to “Pelajaran dari Dortmund”

  1. baha andes says:

    menanti kebangkitan bola endonesia….


    sulit untuk saat ini, mas :) – hedi

  2. snydez says:

    Reinhard Rauball dan Hans-Joachim Watzke itu mereka melepas jabatan mereka sebelumnya, apa di side-job-in di Dortmund

  3. didut says:

    sy msh inget begitu saya menyukai Dortmund dgn Mathias Sammer-nya, seorang bek legendaris yg powerfull.
    Sempa heran knp mrk sangat terpuruk tp ngeh skrg cerita di belakang itu :)

  4. huda el hamid says:

    Selalu menarik ketika membaca blog ini..
    Menambah wawasan ttg sepakbola..
    Kita bisa mendapat bnyk pengetahuan..
    Yg ga bisa didapet dari media mainstream..
    Hehee..

    Tulisan ttg sepakbola jerman nya ditambah dong mas..
    Saya lg tertarik bgt nih.. :D

Leave a Reply