Hooligans12th bertanya apakah di sepakbola atau cabang olahraga ada aturan khusus yang melarang pengaturan skor? Sesuai dengan akal sehat dan juga berbagai aturan main (rules of the games) yang pernah saya baca: ada dan tegas!

Olahraga, terutama dalam konteks industri, tetap saja menyandang nilai-nilai dasar kehidupan. Apa yang tidak sesuai norma dan etika, akan dilupakan. Mungkin juga dihujat. Kita bisa melihat bagaimana norma sebuah civil society berjalan dengan baik ketika striker tenar Inggris, Wayne Rooney, diprotes oleh persatuan wali murid dan guru Inggris (POMG).
Rooney dianggap tidak mencerminkan nilai kepantasan dan kesopanan masyarakat karena sering mengumpat dengan kata f*ck kepada wasit dalam pertandingan. Padahal mayoritas anak sekolah di Inggris mengidolai pemain Manchester United itu.
Protes berakhir mulus. Rooney memperbaiki perilakunya dan sekaligus citranya. Bisa jadi, pemain kelahiran Liverpool ini sadar dengan perannya sebagai public figur. Dia punya “kewajiban” untuk mencerahkan masyarakat.
Itu pula yang diemban NBA ketika mengusung program “Back to school” setelah banyak anak Amerika, terutama dari kaum afro-america, putus sekolah.
Olahraga adalah sebuah entitas kemajuan peradaban. Mereka mewakili sikap fairness. Baik secara aturan atau praktis. Isi aturan main dan statuta FIFA mengandung fair play dan civil society. Apabila prakteknya menyimpang, misal korupsi seperti yang dilakukan oleh FIFA sendiri, itu adalah kesalahan pelakunya. Bukan aturannya.
Ketika perilaku kasar atau perkelahian di dalam olahraga dilarang, maka demikian pula kasus suap dan pengaturan skor. Itu semua mencederai azas fair play. Sanksi pun ada di segala peraturan.
Di Inggris, setiap stadion memiliki penjara yang digunakan untuk menahan sejenak para (penonton) perusuh. Perkelahian pemain juga akan diselidiki polisi. Ingat saja kasus Joey Barton yang memukul rekannya sesama Manchester City, Ousman Dabo. Ini menjadi bukti betapa masalah civil society ditangani serius oleh semua pihak.
Bagaimana dengan Indonesia?
Saya hanya pernah membaca statuta PSSI. Ada diatur bahwa pengaturan skor, suap atau tindakan indisipliner lain dilarang dan terancam sanksi tegas. Aturan memang masih dalam kerangka organisasi, belum hingga ke luar (polisi, misalnya). Tetapi wacananya bukanlah aturan internal atau eksternal, tetapi apakah aturan itu dijalankan atau tidak.
Jika mau mengacu pada negara-negara maju, perkelahian pemain juga bisa ditindaklanjuti ke ranah hukum. Tentu saja melihat lebih dulu level insidennya. Kasus Nova Zaenal yang dihukum 3 bulan karena berkelahi dengan Bernard Mamadou (Persis vs Gresik United) adalah sebuah kewajaran.
Lalu mengapa isu pengaturan skor, yang dijadikan bahan untuk judi, tetap terjadi di Indonesia? Berbeda dengan di belahan barat, di sini pelakunya justru mereka yang ikut menyusun aturan dan sanksi. Tak ada iming-iming dari mafia seperti di Italia. Semua murni dilakukan pengurus (ini hanya dugaan saya semata karena tak ada pembuktian melalui pengadilan). Aparat pun seakan tutup mata.
Jadi kembali pada pertanyaan Hooligans12th di awal, aturan di sini hanya menjadi macan kertas. Kejujuran adalah sesuatu yang mahal di Indonesia. Bahkan pada lapisan masyarakat yang paling dasar sekalipun. Sekarang pertanyaannya adalah apakah kita mau (menjalankan aturan)?
Btw, liverpool dan chelsea bakal maen di KL pak, nongton jom!