ketika sepakbola bikin penasaran

Akhirnya Liga Indonesia berubah wajah (lagi). Skuad baru PSSI, dengan back-up AFC, me-reset LSI dan (juga) LPI. Level 1 dan Level 2 disiapkan sebagai format baru.

Level 1 dan Level 2? Harusnya ini bukan hal istimewa karena di format lama sudah ada Liga Super, Divisi Utama, Divisi 1-2-3. Adapun konotasi Level 1 dan Level 2 adalah profesional dan semi pro/amatir.

Sejatinya, kalau hanya untuk membagi format pro dan amatir, tidak perlu sampai memberangus sistem yang lama. Bisa saja Liga Super dan Divisi Utama dijadikan level pro dan di bawahnya diklaim menjadi semi pro. 5 syarat dasar dari AFC untuk klub pro tetap bisa diterapkan tanpa mengubah format kompetisi. Yang penting kan prinsip dan pondasi yang kuat, bukan kemasannya yang harus diganti.

Namun buat saya, yang paling mengganggu dari (rencana) perubahan format kompetisi itu adalah dibukanya pintu bagi klub-klub LPI untuk menentukan diri di Level 1 atau 2.

Bukan soal saya suka atau tidak LPI, tapi lebih pada azas fairness. LPI berisi klub-klub baru. PSSI memang tidak menutup pintu bagi klub baru untuk bergabung. Tetapi caranya, jika mengacu aturan main lama, adalah dengan masuk melalui divisi 3.

Apa boleh bikin. Namanya juga mulai dari nol. Artinya, sekarang, semua klub sepakbola Indonesia dianggap sama rata. Siapa yang bisa mencapai syarat dasar sebagai klub pro maka dia akan masuk Level 1.

Lalu dari semua syarat, poin infrastruktur cukup menggelitik saya. Syarat itu harusnya tidak dibebankan kepada klub karena klub di sini bukan pemilik stadion. Tidak juga pada klub plat merah. Saya setuju bahwa salah satu hambatan sepakbola nasional adalah soal stadion dan lapangan. Memang harus diperbaiki.

Tetapi ada pendekatan keliru yang diambil PSSI dan AFC. Menerapkan syarat infrastruktur sebaiknya diarahkan ke pemerintah daerah atau kementrian olahraga. Mereka lebih berwenang. Klub memang dimungkinkan membangun stadion sendiri, tapi rasanya belum mungkin untuk konteks klub Indonesia.

Untung saja untuk syarat stadion, PSSI dan AFC bersikap realistis dengan memberi kelonggaran. Mereka meminta stadion ditingkatkan ke level A secara bertahap. Ini agak melegakan.

(bersambung)

© image: horizonunlimited.com

§587 · August 11, 2011 · Sepakbola Indonesia · Tags: , · [Print]

4 Comments to “Liga Indonesia: Kembali ke nol (1)”

  1. nothing says:

    saya juga radak ga setuju kalo tim baru langsung masuk level tertinggi.tapi apa boleh bikin.. :)

  2. jensen99 says:

    Tau gini Persidafon gak usah repot2 ngejar promosi ke ISL kemaren, sampai musti jadi tuan rumah 8 besar plus TC sebulan di Malang nunggu playoff. :evil:

    Semoga saja klub2 asal ISL/Divisi utama semua sepakat nolak bertanding melawan klub asal LPI.

  3. norjik says:

    wah lama gk blogwalking. ternyata bnyk perubahan.
    btw ..denger2 mau ke balikpapan ya

  4. Yulian M says:

    LPI cuma liga sepakbola cari keringat. Saya bilang buang-buang uang saja.
    Emang klub LPI gak pake APBD, tapi semuanya punya satu donatur yang sama…

Leave a Reply