Antara Optimistis dan Realistis
Bermodalkan 3 laga persiapan, tim nasional (timnas) Indonesia menantang Iran di Grup E Kualifikasi Piala Dunia 2014. Tim peringkat 131 dunia (versi FIFA Agustus 2011) melawan tim rangking 57 dunia.
Ya, David vs Goliath.
Saya tahu ini adalah buah dari euforia. Sebuah hal bagus dan positif di tengah hidup kebangsaan Indonesia yang carut marut dihantam berbagai masalah. Hanya sepakbola (dalam hal ini: timnas) dan sedikit bidang lain yang masih bisa mengundang rasa bangga sebagai orang Indonesia dan persatuan.
Sepakbola memang bukan matematika praktis. Tapi bukan berarti tak bisa dihitung. Tentu saja jargon abadi “bola itu bundar” itu tetap berlaku. Namun sekali lagi kasus per kasus. Dalam kasus timnas, sulit sekali berharap bahwa hitungan matematika akan buyar dengan sendirinya di lapangan.

Pelatih Wim Rijsbergen memasang skema 4-2-3-1. Empat pemain belakang sejajar adalah M. Roby, Hamka Hamzah, Zulkifli dan Benny Wahyudi. Dua di depan mereka terdapat Haryono sebagai gelandang penyeimbang dan pengatur serangan Firman Utina. 3 di atasnyaada winger M. Ridwan dan M. Ilham serta Bambang “Bepe” Pamungkas sebagai pivot serangan untuk menopang Cristian Gonzales sebagai sole striker.
Itu skema yang memadai meski terlihat benar fokus utama adalah pertahanan. Dan sudah bekerja dengan baik di 45 menit pertama meski ada kesan bagaimana demam panggungnya pasukan Carlos Queiroz. Beberapa kali serangan Iran melalui umpan silang dipatahkan kiper Markus Harison. Satu, karena umpan tidak akurat. Kedua, karena kurang koordinasi antar pemain depan mereka.
Indonesia juga berhasil memasang jebakan offside dengan baik meski 2 kali terlihat Zulkifli selalu out of position.
Bagaimana dengan serangan Indonesia? Tentu saja minim. Dominasi Iran yang begitu kuat membuat Bepe, Firman dan Gonzales sering kehilangan akal untuk menyerang. Hanya satu shoot yang berhasil dilepas Indonesia, dari Bepe. Itu pun masih melambung.
Di babak kedua, Iran bermain lebih sabar. Winger mereka, Farhad Majidi dan Reza Mohammad, beberapa kali mampu mencapai ujung pertahanan Indonesia sebelum melepas umpan silang atau diagonal — entah mendatar atau lambung. Tetapi di paruh waktu kedua ini Indonesia mendapat malapetaka yang tak bisa dihindari.

Fisik yang menurun membuat fokus permainan mengendur. Akibatnya tekel sia-sia mulai dilakukan. Dua gol pertama Iran datang dari set pieces. Turunnya fisik pemain juga membuat sedikit pemain Indonesia bertindak ngawur. Lihat bagaimana Zulkifli menendang pemain Iran yang sudah jatuh. Di babak pertama, ketika stamina masih segar, ini kejadian nihil.
Ketinggalan dua gol, Indonesia coba menyerang. Ilham yang punya kelincahan berusaha menusuk hingga daerah belakang Iran. Tetapi hanya sampai di situ. Mengoper bola masih menjadi handycap teknis yang klasik untuk Indonesia. Ilham, Ridwan dan Bepe berulang kali salah mengoper bola. Andai tidak salah, pasti umpan lambung yang ditempuh. Kalau ini, sudah pasti percuma tak berguna. Pertama, tidak akurat dan kedua, postur pemain kita tak memadai untuk itu.
Pada akhirnya, kita kalah 3-0. Secara ngawur, sudah saya perkirakan skor tak akan jauh dari sana.
Terus terang, Iran kemarin tidak istimewa. Pola permainan mereka tidak terlalu jelas. Queiroz masih belum menemukan ciri permainan yang baku. Kelihatannya justru dia mau menerapkan gaya seperti yang dipakai Real Madrid. Mungkin karena ada kapten Jevad Nekounam yang lama bermain di La Liga bersama Osasuna. Andai melawan Thailand atau Singapura, mungkin Iran kemarin belum tentu menang.
Iran menang hanya karena memanfaatkan permainan timnas yang mulai menurun di babak kedua. Lalu apakah berarti Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa? Kecuali ada perubahan mendasar dalam teknis permainan kita, tentu saja bisa. Tetapi ini hanya waktu yang bisa menjawab.
Bagaimana kalau timnas bermain pendek merapat? Ini memang taktik yang paling pas untuk Indonesia mengingat posturnya yang lebih pendek. Tapi untuk bermain dengan umpan pendek, para pemain harus memiliki sumber stamina yang cukup untuk bermain 100 menit!
Permainan pendek merapat membutuhkan gerak yang mobile karena si pemain harus terus mencari ruang kosong tanpa menjauhi rekan-rekannya.
Itulah nafas permainan zona!
Saya harus bilang Indonesia belum cukup punya sumber daya untuk memainkan gaya itu walau tentu saja harus dicoba. Satu hal yang ingin saya lihat dari timnas adalah ritme bergerak mereka yang seirama. Kebiasaan tim Indonesia lebih sering menyerang secara sporadis. Mereka jarang terlihat seirama ketika menyerang. Si A sudah bergerak jauh lebih dulu dan si B masih berada di belakang. Akhirnya si C yang menguasai bola bingung harus mengoper ke siapa dan bagaimana.
Ini belum berpikir tentang penerapan pendek merapat A-5 side atau A-3 side yang sering dipakai dalam permainan zona.
Permainan timnas Indonesia dari masa ke masa bukan melulu kesalahan pelatihnya. Bukan pula kesalahan Wim. Seorang pemain akan bermain sesuai DNA yang dibentuk dari kebiasaannya di liga. Saya harus mengulangi untuk kesekian kalinya bahwa kegagalan timnas adalah tanggung jawab klub pula. Pemain berada di sana hampir sepanjang musim. Latihan setiap hari, bermain secara berkala setiap pekan. Lalu apa yang dilatih oleh klub jika stamina dan teknis nyaris tak berubah?
Jadi jika Ilham dan Ridwan melepas umpan lambung yang sia-sia, itu karena kebiasaan mereka di liga domestik. Bisa berhasil di domestik karena lawannya punya postur yang sama. Tapi jika bertanding dengan tim asing yang berpostur lebih tinggi, menjadi sia-sia.
Satu hal yang saya suka dari setiap timnas berlaga adalah dukungan positif masyarakat Indonesia. Ini harus selalu ada. Sebuah modal. Timnas kita paling lemah di Grup E dan salah satu yang terlemah dari seluruh grup kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia. Namun semua harus tetap dicoba, harus berusaha. Jangan pikirkan hasil akhir. Timnas punya modal bagus, yaitu mental mereka yang tidak kalah sebelum bertanding.
Strategi Wim kemarin malam sudah betul. Tapi menjadi tak berdaya guna karena memang kemampuan para pemain masih terbatas. Apa boleh bikin. Teruslah berusaha, timnas Indonesia!
—
Permainan Indonesia dari waktu ke waktu:
sampeyan nebak 3-0? saya nebak 3-1
—
nebak 3-0 karena Wim mau fokus bertahan dan timnas ga full team yu hehehe – hedi
Saya setuju dgn bung Hedi. Menurut saya malah Indonesia beruntung cuma kalah 3-0 kalau bukan krn lini depan-nya Iran kurang koordinasi
harusnya babak ke2 yg masuk pemain bertahan…
Saya sih memang cuma berharap PSSI dalam beberapa waktu ke depan memberikan dampak positif dalam menghasilkan timnas dan liga yang mampu bersaing di dunia international. Jangan melulu bangga liga ramai dan riuh suporter, tapi selalu kalah dalam laga international. Itu SEMU!!
gue nebaknya kalah 0 – 2 atau 1 – 3 ya beda tipislah hehe
[...] semalam bermain di bawah standarnya. Menurun dibandingkan melawan Iran meski strategi bermainnya beda. Saya menilai wajar karena memang sumber daya yang terbatas. Timnas [...]