RSS You're reading Indonesia vs Bahrain: 0-2 article on sekadarblog

Indonesia vs Bahrain: 0-2

Akhirnya baru sekarang, kebanyakan dari kita menyadari bahwa tim nasional (timnas) belum bisa memenuhi harapan. Kalah dari Bahrain, baik dari skor maupun permainan, adalah bukti sahih yang kesekian. Atau, jangan-jangan karena kita berharap terlalu tinggi?

Mungkin kebanyakan karena melihat serial kemenangan yang diraih timnas ketika Piala AFF kemarin dulu. Antusiasme terbangun. Harapan memuncak. Namun mereka berangkat dari skor, bukan standar permainannya. Tidak salah, tetapi kurang tepat.

Timnas semalam bermain di bawah standarnya. Menurun dibandingkan melawan Iran meski strategi bermainnya beda. Saya menilai wajar karena memang sumber daya yang terbatas. Timnas baru pulang dari Teheran, Iran, pada Minggu malam. Lalu menurut Bambang Pamungkas, dari berita di koran yang saya baca, skuad baru bisa tidur pada sekitar pukul 01.00 WIB alias Senin dinihari.

Dengan kondisi itu, terlalu sulit untuk menuntut lebih pada timnas. Fisik dan stamina mereka tidak bugar. Bahkan dalam 10 menit pertama pun terlihat jelas. Kontrol bola tidak prima. Umpan sering gagal. Dalam kondisi siap pun, timnas masih sering membuat kesalahan elementer. Apalagi dalam kondisi tidak bugar.

Di sisi lain, Bahrain menerapkan manajemen permainan yang standar. Mereka tidak istimewa, terutama di lini depan. Tidak heran pelatih mereka, Peter Taylor, beberapa kali terlihat marah di pinggir lapangan karena serangan sering macet atau terlihat tidak sesuai skenario.

Pertahanan Bahrain menggunakan sistem zona. Barisan zonal defence mereka berbentuk setengah lingkaran. Posisinya agak dekat dengan lingkaran di tengah lapangan. Diisi oleh 6-7 pemain. Transisi defence menuju attack mereka berjalan baik. Salah satu yang mampu memainkan peran ini dengan baik adalah gelandang Fouzi Aaish Mubarak.

Aaish, salah satu pemain terbaik Bahrain pada Piala Asia lalu, pintar mencari ruang kosong. Posisi aslinya adalah di tengah, tetapi dia cenderung selalu bergerak ke sayap kiri. Beberapa kali dia bebas dari kawalan. Saat goal kick dari kipernya, dia sudah berada di sisi kanan pertahanan Indonesia. Namun dalam hitungan detik, dia bisa bergerak tanpa bola ke depan kotak penalti Indonesia.

Sungguh pemain yang cerdas dalam positioning.

Sementara pemain timnas yang kemarin bermain agak baik adalah Hariono. Masuk sebagai pengganti, Hariono selalu berusaha berada dekat dengan kawan-kawannya. Namun hanya sebatas itu. Dia tak mau, atau mungkin tidak berani, maju terlalu jauh dari posisinya sebagai jembatan ke depan.  Maklum, dia gelandang bertahan.

Tapi Hariono beberapa kali salah mengoper? Kalau itu bukan hanya dia. Hampir seluruh pemain Indonesia melakukannya. Kembali saya ulangi, ini soal DNA. Kebiasaan mereka bermain selama ini lebih sering begitu. Sudah mendarah daging.

Yang masih saya sesalkan adalah bagaimana para pemain timnas lebih sering berada dalam posisi yang saling berjauhan. Tidak ada pergerakan seirama yang bisa menciptakan jarak antar pemain selalu terjaga. Boaz Solossa selalu kesepian di sayap kanan. Dia dipercayakan begitu saja seakan-akan dia dewa bisa menyelesaikan segala masalah sendirian.

Namun itu semua memang klasik dari permainan Indonesia. Terlebih, stamina dan fisiknya terbatas. Sudah sering saya menulisnya. Itulah tim kita. Apa boleh bikin. Akibatnya, Bahrain yang hanya mengandalkan kecepatan bergerak dan kedisiplinan pun bisa memetik poin penuh. Mereka memanfaatkan kesalahan elementer timnas.

Itulah kejadiannya. Nasi sudah menjadi bubur. Semoga kekalahan kemarin bisa menjadi pelajaran kesekian untuk diambil hikmahnya oleh tim dan pengelolanya. Semoga.

Ϡ

11 Responses to “Indonesia vs Bahrain: 0-2”

  1. andinoeg says:

    gak tau menang, main kandang ae kalah

  2. [...] jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami sepakbola Indonesia. Kalah dari Bahrain di dalam lapangan dan kalah (bersikap) di luar [...]

  3. nothing says:

    main e kok iso elek koyok ngunu yo?
    *kamfret

    jelek atau bagus pake standar mana yu hehehe – hedi

  4. Wahyu Alam says:

    Wah, tulisannya ringan enak dibaca. semua orang pasti berpendapat sama dengan tulisannya Pak Hedi ini. termasuk saya. permainannya di bawah standar, masalah jadwal tidur menurut saya itu merupakan tanggung jawab manajemen BTN, mereka harus profesional untuk mengatur waktu para pemain. sedetik sangat berharga bagi olahragawan. tetap semangat TIMNASku, kita akan selalu #dukungTIMNAS


    terima kasih Wahyu :-) – hedi

  5. cyn says:

    Stamina, posisi saling berjauhan, tidak seirama dan Boaz bukan dewa!
    Daaannn… umpan lambung ;))
    Tapi salah oper itu bisa dilatih dan ga DNA ah.

    Meresapi (menerima kesannya pasrah) kekalahan dan belajar darinya untuk bisa tampil lebih baik, konon salah satu seni dalam olahraga. *halah*


    Salah umpan bisa dilatih, tapi di klub. Bukan di timnas. Dan kalau mau bagus, dari kecil cyn :D – hedi

  6. be reagie says:

    pendapat saya sih, pola mainnya indonesia kurang jelas juga. pergerakan mereka jadi gampang diantisipasi, terutama ketika mulai memasuki wilayah lawan. kebingungan juga seperti terlihat pada bustomi juga firman utina, aliran possesion ball dari lini belakang menjadi percuma karena lini depan tidak terlalu kreatif…


    itu problem klasik sepakbola Indonesia – hedi

  7. wakino says:

    pelatihe malah lempar tangan,ben golek pmain seko LPI wae


    tidak sportif – hedi

  8. banimars says:

    Terlalu BOAS sentris,ridwan babak 1 nganggur :D


    dengan kata lain; tidak kreatif :-) – hedi

  9. ekowanz says:

    dadi realita ne walaupun ganti pelatih kaliber dunia sekalipun, tetep gak mungkin bisa instan menang ya?


    ga mungkin lah Ko, semua tergantung materinya kan – hedi

  10. pandu says:

    om, komposisi terbaik pemain timnas untuk pertandingan selanjutnya menurut anda siapa saja?
    katanya kan timnas mau dirombak..


    kan masih “katanya”, tim sekarang salah satu yg terbaik kok kalo dalam form terbaiknya – hedi

  11. didut says:

    stamina itu masalah klasik dan itu berhubungan dgn disiplin pemain juga, ketika ada pelatih yg bs membenahi keduanya biasanya di pecat to? biasa pemain kita gak kuat disiplin yg ketat dan akibatnya stamina ya kedodoran. Itu kl lagi sehat gimana kl lagi gak fit? :mrenges:

    ya, kadang pemainnya berontak. Semua memang harus 1 suara sih kalo mau maju :-) – hedi

Leave a Reply