ketika sepakbola bikin penasaran

Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami sepakbola Indonesia. Kalah dari Bahrain di dalam lapangan dan kalah (bersikap) di luar lapangan.

Penonton bereaksi negatif terhadap gol kedua Bahrain. Botol dan petasan mampir ke pinggir lapangan. Memang tidak semua penonton. Mungkin hanya sebagian kecil. Namun yang kecil itu terlihat jelas. Bukan hal baru sebenarnya, kalau tak mau dikatakan biasa dalam persepakbolaan nasional.

Sejak awal, petasan sudah muncul. Sejak lagu kebangsaan selesai, flare dan petasan menghiasi area dalam Stadion GBK. Match Commisioner sudah terlihat resah. Namun masih bisa bersikap toleran. Namanya juga suporter.

Tetapi ketinggalan 2-0 menjadi pemicu yang lebih besar. Kebiasaan sebagian penonton dengan melempar botol minuman dan petasan ke arah lapangan tak bisa dihindarkan. Situasi yang tidak kondusif menurut aturan pertandingan FIFA.

Suporter di manapun punya potensi untuk melakukan kericuhan. Tinggal bagaimana celah itu diminimalisir oleh pihak berwenang. Petugas keamanan Indonesia nyaris tidak punya kebijakan pengamanan massa sepakbola yang memadai. Bukan hanya yang terjadi di GBK kemarin malam. Itulah mengapa kericuhan di liga lokal sering terjadi.

Misalnya di GBK.

Bila Anda datang membawa minuman dalam botol, maka air akan dipindahkan ke dalam plastik oleh petugas keamanan di gerbang pemeriksaan tiket. Anda masuk ke dalam area tribun, penjual minuman kemasan (berbotol) sudah membuka lapak seadanya. Bahkan tak perlu takut kehausan saat pertandingan berlangsung. Pedagang asongan minuman kemasan botol adalah barang jamak.

Lalu apa gunanya melarang orang membawa minuman dalam botol di pintu masuk? Sungguh absurd.

Absurditas lainnya adalah soal pemeriksaan barang bawaan penonton. Pemeriksaan tubuh hanya seadanya. Petugas keamanan hanya mengandalkan kejujuran penonton. “Bawa korek ga?”. “Bawa mercon ga?”. Astaga, standar operasional macam apa ini? :D

Dengan standar pengamanan seperti itu, tak heran bila petasan masih bisa masuk ke dalam stadion. Semoga di lain waktu bukan bom yang masuk stadion.

Itu belum termasuk aneka strategi pengamanan lain seperti yang selalu dilakukan oleh Scotland Yard, kepolisian Inggris, misalnya. Bagaimana mereka membuat pemisahan jalur yang boleh dilalui suporter atau tidak. Jangan harap menemukan itu di sini. Dan tentu masih banyak teknis pengamanan lainnya yang tidak dilakukan di sini.

Dalam hal menempatkan petugas keamanan di dalam stadion pun, polisi tidak bertindak dengan tepat. Mereka menumpuk petugas di pinggir lapangan, bukan di tribun. Padahal, kebanyakan akar masalah kericuhan selalu bermula di tribun penonton. Indikasi dini potensi kericuhan bisa dicegah dari sana bila petugas cukup memadai di tribun.

Ini pernah dilakukan oleh polisi saat GBK menjadi tuan rumah Piala Asia 2007. Entah mengapa kebijakan itu tidak diteruskan.

Dengan segala pengamanan yang minimal itu, akhirnya hanya kesadaran penonton yang bisa diandalkan. Malangnya, belum semua penonton kita bisa bersikap dewasa — setidaknya di dalam stadion. Karena ketika meninggalkan stadion, penonton tetap relatif tertib.

Semua memang hanya ekses.

§602 · September 7, 2011 · Offside, Sepakbola Indonesia · Tags: , , , , , , · [Print]

11 Comments to “Pengamanan yang Absurd”

  1. nothing says:

    sepakbola indonesia memang bikin penasaran :) )
    nice post

  2. Wahyu Alam says:

    hahahha, jangan salahkan suporter yang datang, mereka itu bayar! dan gak boleh saling menyalahkan, sekarang yang harus dilakukan adalah bagaimana manajemen bisa memperbaiki semua. Jadikan pertandingan kemarin jadi pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga. Pasti bisa lebih baik dikemudian hari. Amin!


    kalo bayar boleh berbuat semaunya? wah ndak benar itu hehehe – hedi

  3. be reagie says:

    pemeriksaan barang juga jadi kurang maksimal karena teknis antrian penonton yang masuk kurang tertib. ketika berdesak-desakan menuju pintu masuk yang tidak proposional untuk ukuran penonton di GBK, proses penyortiran barang bawaan penonton hampir tidak berguna…


    ya, itu salah satu handycap lainnya ;-) – hedi

  4. rizkifahri says:

    maaf, ini seharusnya sudah menjadi pelajaran yg kesekian kalinya. seharusnya management pssi yg baru sudah peka dgn masalah seperti ini. tp ternyata, mereka (management) msh menganggap gampangan masalah ini. ayo dong, revolusi jgn cuma OMONGAN! tp PERBUATAN! sangat disayangkan sikap sebagian kecil suporter kemarin. krna perbuatannya itu sangat tdk mendukung dan tdk menghargai jerih payah TIMNAS INDONESIA.


    suporter seperti itu tak berguna – hedi

  5. Yang lebih absurd lagi masih juga yang nyalahin suporter karena ga bisa dewasa. Dewasa itu artinya diam seperti penonton tenis Wimbledon atau gimana ya? Hehe. Dan sy juga inget pas Piala Asia 2007 yg bertugas ngecek barang bawaan penonton itu bkn hanya polisi dan aparat, tapi jg volunteer. In the end, nice blog mas :D


    dewasa itu artinya penonton tidak bereaksi negatif terhadap apapun kejadian di lapangan – hedi

  6. didta7 says:

    kecewa dan mengecewakan


    betul :| – hedi

  7. Raffaell says:

    Cape soalnya baru landing dah maen lagi, hahahaha

  8. snydez says:

    penah jakarta sepi dari petasan beberapa tahun yang lalu.
    karena waktu itu kapolri(? kapolda) tegas.
    tapi ganti tahun, ganti kebijakan, apalagi ganti pimpinan polisinya, ganti pula cara pengamanan. – gak ada SOP nya yang jelas.

  9. haris says:

    soal pengamanan ini memang polisi memang masih kerepotan. walaupun Kapolri kabarnya “turun langsung” krn ada presiden di sana. nyatanya, mau ada presiden atau nggak, ya sami mawon. sama saja :D

  10. jensen99 says:

    Dan pengalaman nonton bareng mas Hedi waktu itu, kalo cewek bawaannya gak diperiksa ya? ;)

  11. Nursingpedia says:

    wah good articless, keep share

Leave a Reply