RSS You're reading Liga Indonesia vs Liga Indonesia article on sekadarblog

Liga Indonesia vs Liga Indonesia

Sejatinya, saya tak percaya pada hukum karma. Mungkin ada. Tetapi apa yang terjadi umumnya hanyalah sebagai efek dari tindakan sebelumnya.

Tapi baiklah, dalam kesepakatan umum, kita sebut saja hukum karma. Itu yang sedang terjadi pada PSSI rezim baru saat ini. Sebelum menjabat, mereka menggelar Liga Premier Indonesia sebagai bentuk “perlawanan” pada rezim kepengurusan Nurdin Halid. Sekarang, ketika mereka sedang menjabat dihadapkan pula pada ancaman perlawanan yang senada.

Rencana menggelar Liga Premier Indonesia di bawah pengelolaan PT. Liga Prima Sportindo sebagai kompetisi Level 1 Indonesia (karya yang sebenarnya membingungkan saya) ditentang oleh ancaman Kelompok 14 yang berisi sekelompok anggota PSSI untuk menggelar kompetisi Liga Super Indonesia di bawah pengelolaan PT. Liga Indonesia.

Itulah. Buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya.

Jujur saja, chaos ini sudah bisa diprediksi sejak awal. Tanpa landasan kuat akan membuat apapun yang dibangun bakal rentan badai dan goncangan. Liga Indonesia level 1 adalah sebuah kompetisi yang tidak punya landasan aturan yang kuat dan sah. Itu belum termasuk menghitung dan menyebut value-nya.

Kompetisi reguler di sebuah federasi sepakbola harus berangkat dari kesepakatan para anggotanya dalam ruangan bernama kongres. Kebetulan, Liga Super Indonesia sudah diatur dalam Statuta PSSI yang mengadopsi hasil kongres 2011 di Bali.

Berlangsungnya sebuah liga juga harus disetujui oleh Komite Eksekutif dengan memberi mandat kepada sebuah lembaga otonomi. Semua ini diatur dalam statuta, entah milik FIFA maupun PSSI.

Tapi apa mau dikata. Baik PSSI lama maupun yang baru memang sama. Mereka selalu semaunya sendiri. Sejak awal, mereka sudah menabrak banyak sekali pasal di dalam statuta.

Kembali ke liga, yang mana yang sah dan punya legitimasi?

Tentu saja Liga Super Indonesia lebih sah karena diatur oleh kongres dan ada di Statuta PSSI. Tetapi jika Kelompok 14 mau menjalankan kompetisi itu sebagai “kompetisi perjuangan” juga salah kaprah. Mereka tidak punya hak untuk itu, meski mereka anggota resmi PSSI (Pasal 12 Statuta PSSI). Jika Liga Super Indonesia mau digelar maka harus punya persetujuan secara bulat dari Komite Eksekutif. Lagi pula, PT Liga Indonesia (yang disebut oleh statuta) sudah dibekukan oleh PSSI — walaupun dilakukan tanpa kesepakatan kongres.

Tetapi Liga Premier Indonesia juga didukung Komite Eksekutif meski tidak tercantum dalam statuta. Nah lho? Chaos kan? Semua pihak menjadi sama tidak sah berdasarkan aturan main statuta.

Memang sudah waktunya, pelaku sepakbola tanah air meninggalkan prinsip tarkam (antar kampung) dalam pengelolaan sepakbola Indonesia. Ikuti saja statuta FIFA atau PSSI. Semua sudah diatur di sana dan apa susahnya? Bahkan andai PSSI rezim baru mau membuat kompetisi level 1 atau 10 juga tidak sulit untuk mendapatkan legitimasi. Mereka tinggal mengajukan amandemen pasal dalam statuta dan menunggu jawaban dari para anggota federasi.

Tapi itu tidak dilakukan. Seenaknya saja, seperti bagaimana mereka menghapus domain ANTV tentang hak siar Liga Indonesia. Serba asal. Seakan tidak ada aturan atau statuta yang mengikat tindakan mereka. Benar-benar di titik nadir.

Tapi begitulah PSSI, semua hanya dilakukan untuk kepentingan (politis) golongan yang pada akhirnya akan memancing golongan lain untuk meluluskan kepentingannya sendiri pula.

Kekacauan manajemen kompetisi ini pada akhirnya akan membuat klub makin runyam. Klub sudah terlanjur mengontrak pelatih dan pemain. Gaji harus dibayarkan. Sementara, ketika liga tak mungkin digulirkan maka klub tidak akan punya peluang untuk meraup penghasilan dari uang tiket stadion. Dalam jangka panjang, timnas Indonesia akan menjadi korban karena para pemainnya tidak teruji di kompetisi (sah) yang tak jelas kapan akan bergulir.

Itulah sepakbola Indonesia. Sebuah kegiatan olahraga yang dikelola tanpa menggunakan otak! Lalu, apa yang bisa diharapkan?

Ϡ

2 Responses to “Liga Indonesia vs Liga Indonesia”

  1. nothing says:

    memang susah jadi pesepakbal di indonesia :)

  2. phery says:

    seandainya ada gerakan Revolusi PSSI lagi, apa iya nantinya ada seseorang yang meninggalkan prinsip tarkam demi kemajuan sepakbola? Saya pikir untuk saat ini sulit.

Leave a Reply