RSS You're reading Franchise untuk MLS, Bukan Indonesia (1) article on sekadarblog

Franchise untuk MLS, Bukan Indonesia (1)

Dalam sport, Amerika Serikat (AS) adalah anomali. Ada kesan pula agak arogan. Mereka senang membuat segalanya berbeda dari tempat lain. Rugby dimodifikasi jadi American Football, softball diubah jadi baseball, dan sebagainya. Pokoknya harus beda.

Begitu juga di sepakbolanya.

Untuk mengikuti Major League Soccer (MLS) — kompetisi profesional di AS, Anda sebagai (calon) pemilik klub harus mengantongi franchise

Lho, apakah MLS punya klub? Tidak! Bentuk franchise-nya tidak seperti kedai kopi Starbucks atau Kentucky Fried Chicken.

Franchise yang dimaksud oleh MLS adalah sebuah hak untuk mendirikan klub (calon) peserta kompetisi pro. Guna membeli hak itulah, Anda atau konsorsium harus memenuhi sejumlah syarat.

Requirements (franchise) come first, club will come after that. What kind of requirements?

Pertama, aspek finansial. Anda harus membuktikan bahwa kocek Anda sangat-sangat tebal. Anda harus menunjukkan kemampuan membayar gaji seluruh orang yang ada di klub (termasuk pemain dan pelatih) dan membiayai operasional klub selama mengikuti MLS. Jumlahnya bisa mencapai ratusan juta dolar.

Kedua, Anda harus punya home ground alias kandang untuk bermain. Stadion yang diajukan dalam proposal pun harus memenuhi sejumlah syarat teknis MLS. Apesnya, ini syarat yang gampang-gampang susah.

Kita tahu bahwa AS adalah negeri yang gandrung pada baseball dan American Football. Banyak stadion di sana yang dibangun untuk kepentingan dua sport itu. Bila Anda mengajukan stadion yang tidak didesain khusus untuk sepakbola, maka akan ditolak. Stadion harus murni untuk sepakbola dan bukan American Football atau baseball.

Saat sudah menentukan stadion sesuai teknis MLS, Anda juga harus mengantongi kesepakatan leasing dengan pengelola/pemilik stadion dengan biaya ratusan juta dolar. Bila itu sudah aman, maka MLS akan memberi kode lampu hijau. 86!

Syarat ketiga, Anda harus mengantongi izin dari pemda setempat bahwa klub akan berkandang di kota tersebut. Segala izin untuk mendirikan klub di sana — termasuk bertanding, pembayaran pajak dan kemungkinan pembagian keuntungan harus dijelaskan dalam MoU dengan pemda/walikota.

Keempat, Anda harus membayar franchise fee kepada MLS sebelum mendapat status sebagai peserta liga. Konon, sebagai contoh, Seattle Sound harus membayar fee sebesar 40 juta dolar sebelum ambil bagian di liga mulai tahun 2009.

Nah, katakanlah, keempat syarat itu bisa Anda penuhi. Namun franchise MLS belum tentu diperoleh. Apa pasal?

MLS masih harus melakukan riset pasar. Apakah kota di mana klub akan bermarkas punya cukup basis fan? Apakah penggemar di kota itu mampu membeli tiket dan merchandise tim? Jawaban dari pertanyaan ini harus positif. Bila sebaliknya, Anda terpaksa gigit jari.

Itu sebabnya, jangan heran bila melihat ada klub MLS yang dipindah kandang ke kota lain. Bahkan ada pula yang dicopot dari MLS dan hilang dari peredaran. Penyebab yang paling umum adalah sepinya penonton atau menurunnya penjualan merchandise. Artinya, kota itu ternyata tidak prospektif sebagai peserta liga.

(bersambung)

Ϡ

One Response to “Franchise untuk MLS, Bukan Indonesia (1)”

Leave a Reply