“Don’t change the winning team” adalah kalimat sakti yang sering diperhatikan pelatih, pengamat, analis dan penonton terkait komposisi tim. Juga soal strategi bermain.
Namun berbeda dengan Giovanni Trappatoni. Mungkin pelatih berusia 73 tahun yang dikenal keras kepala ini memilih “berjudi”. Pada akhirnya pertaruhan itu gagal total karena Republik Irlandia yang ditanganinya menjadi tim pertama yang angkat koper dari putaran final Euro 2012.
Mr. Trap, sapaan akrab pelatih dari Italia itu, mengubah wajah Irlandia secara total saat tampil di Gdanks dan Poznan, Polandia, dalam 8 hari di bulan Juni 2012. Tindakan Mr. Trap mementahkan segala preview, analisis dan prediksi.
Irlandia sejatinya memang bukan tim unggulan. Tetapi sebagian pihak menempatkannya sebagai salah satu kuda hitam Euro 2012. Tentu saja orang berpengangan pada catatan yang diraih Irlandia di kualifikasi dan play-off serta sentuhan juara Mr. Trap di kancah klub.Tak ada ramalan Irlandia akan menjadi tim pertama yang tersisih dari Euro 2012 lebih dini.
Di kualifikasi, Robbie Keane dkk. menempati runner up Grup B dengan hanya selisih dua poin dari Rusia yang pernah ditahan tanpa gol di Moskow. Sejak partai pertama kualifikasi hingga akhir kualifikasi, Irlandia memasukkan 15 gol dan kemasukan 7 gol. (Rusia, 17-4). Sementara di partai playoff, Irlandia menahan Estonia 1-1 dan menang 4-0 sehingga layak melaju ke putaran final Euro 2012.
Keberhasilan Irlandia di masa penyisihan itu adalah berkat permainan pragmatis yang diterapkan Mr. Trap. Memang bukan gerendel catennacio seperti ciri khas Italia, tapi cukup rapat nan menyulitkan lawan untuk menerobos pertahanan sebelum kemudian memukul lawan dengan serangan balik mematikan. Mr. Trap memang harus membumi karena ia paham materi timnya tidak berisi pemain kelas elite. Itu sebabnya Irlandia mampu menjalani 14 laga beruntun tanpa kalah dan “hanya” kebobolan 8 gol sebelum ke Ukraina-Polandia.
Tetapi tanpa dinyana, Mr. Trap justru meninggalkan gaya pragmatisnya selama ini yang terbukti sukses ketika sudah berada di panggung sesungguhnya. Di partai pertama Grup C (10 Juni 2012), Irlandia bermain begitu terbuka. Mereka meladeni permainan menyerang Kroasia. Hasilnya, lawan menang 3-1. Di partai kedua, lebih parah lagi. Menghadapi juara dunia dan juara Eropa Spanyol yang punya catatan possesion ball tertinggi di Eropa, Irlandia juga memilih bermain di luar pakemnya. Hanya butuh 4 menit, Fernando Torres sudah memperdaya kiepr Shay Given untuk membuka kemenangan 4-0 Spanyol.
Itulah kekalahan terbesar pertama bagi Irlandia sepanjang mengikuti turnamen besar. Secara teknis, Spanyol memang di atas kelas Irlandia meski jarak peringkat FIFA antar keduanya tidak mencapai selisih 20. Dalam kapasitas normal, Irlandia bukan lawan sepadan Spanyol. Namun bila China dapat menahan Spanyol 1-0 (walau hanya dalam partai friendly), seharusnya Irlandia pun bisa memilih untuk tidak kalah telak 0-4.
Kualifikasi memang berbeda dengan putaran final. Prestasi tim di masa kualifikasi memang belum tentu akan serta merta membuat tim itu berprestasi di putaran final. Belanda yang tidak terkalahkan di kualifikasi justru sudah menuai 2 kali kalah di Grup B.
Tetapi mengubah gaya main total seperti yang diterapkan Mr. Trap akan penuh risiko. Mr. Trap mungkin sangat percaya diri. Dia mungkin memang harus mengambil langkah drastis untuk mengejar kemenangan karena sudah kalah di partai pertama. Namun ia lupa bahwa skuadnya tidak terlalu ahli dalam menyerang. Irlandia bukanlah AC Milan, Juventus, Inter Milan maupun Bayern Muenchen atau Benfica yang pernah diantarnya juara.
Hanya ada kapten Robbie Keane yang punya ketajaman lebih baik dengan modal 5 gol dalam 13 penampilan dengan LA Galaxy dan 3 gol dari 6 kali bermain dengan Aston Villa di musim lalu. Tapi di Euro 2012, pemain 31 tahun itu belum berhasil mencetak gol. Pemain lainnya hanya pemain semenjana level kedua.
Keane, Richard Dunne, Damie Duff dan Given hanyalah bintang yang mulai meredup. Beban mereka untuk menyempurnakan perubahan taktik Mr. Trap terlalu berat. Beruntung Irlandia hanya tenggelam di dalam lapangan. Di luar lapangan, mereka tetap di permukaan berkat dukungan suporternya yang “hard die” dengan alunan klasik “The Fields of Antherny”. Mungkin Irlandia dan Mr. Trap akan membalas suporternya dengan permainan positif saat laga pamungkas melawan Italia nanti.