Archive for the ‘Sepakbola Indonesia’ Category

Belum Berubah

Friday, November 21st, 2008

Timnas Indonesia belum berubah. Sekali lagi, nggak kaget sih. Indonesia kalah itu biasa, bisa menang baru mengejutkan (dan bikin senang).

“Tapi kalahnya dari Myanmar,” kata seorang teman.

Kenapa enggak? Myanmar, dulu Burma, musuh bebuyutan Indonesia jaman 70-an. Era itu, Asia Tenggara cuma dikuasai Indonesia dan Burma. Baru mulai 90-an, Thailand merajai. (more…)

Tuan Rumah Boleh Apa Saja

Friday, November 14th, 2008

Hukuman seumur hidup buat tiga pemain PSIR Rembang memang pantas. Tapi itu belum cukup buat kemajuan sepakbola nasional.

Itu baru asap. Supaya asap nggak membumbung, jaga supaya jangan ada kebakaran. Harus dicegah dulu agar kekerasan di sepakbola nasional nggak dianggap “lumrah”. (more…)

Mundur Kok Nggak Boleh…

Sunday, November 2nd, 2008

Beberapa klub di Indonesia berniat mundur dari Copa Indonesia. Alasannya jelas, dana nggak cukup. Wong buat bayar gaji pemain dan bayar biaya perjalanan pun kembang kempis.

Kondisinya sudah mati enggan hidup ogah. Tidak bangkrut dan mundur dari Liga Super pun sudah bagus. (more…)

Mencari Kenistaan

Saturday, October 11th, 2008

“PSIS itu mainnya jelek, kalah melulu dan sekarang malah dikerjai wasit.” - Manajer tim PSIS, Yoyok Sukawi, seusai laga melawan PSMS Medan kepada wartawan.

Lalu, dengan berusaha menghajar si wasit, apakah berarti PSIS akan membaik dan menang terus?

Apakah kemudian PSIS bakal mendapat sponsor berlimpah supaya paceklik dana bisa tertanggulangi?

Sebagian besar orang tahu jawabannya. Inilah contoh kecil terbaru dari kebobrokan sepakbola Indonesia (yang dulu pernah saya tulis berseri).

Percayalah, hanya kenistaan yang bisa direngkuh.

NB: Gambar di-copy dari memo.blogombal. Foto asli dimuat koran Kompas edisi 10 Oktober 2008 dan milik Kompas pula.

Pilih Menang atau Kalah?

Sunday, August 31st, 2008

Ada sebuah ungkapan dari suporter di Malang, kira-kira begini: “Kalah atau menang itu biasa, tapi kalau kalah terus ya kebangetan.”

Jadi, soal timnas Indonesia lebih banyak kalah ketimbang menang, harusnya sudah bikin tobat (menontonnya). Kebangetan, menurut “kamus” penonton di Malang.

Lalu ketika timnas sudah jera kalah, haruskah menjuarai sebuah turnamen dengan cara tidak terhormat? Buat saya, gelar juara pertama Piala Kemerdekaan kemarin justru tidak menggambarkan kemerdekaan. Harusnya Piala Pemberontakan. (more…)