<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sekadarblog</title>
	<atom:link href="http://sekadarblog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sekadarblog.com</link>
	<description>ketika sepakbola bikin penasaran</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 15:45:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Prancis yang Rendah Diri</title>
		<link>http://sekadarblog.com/2010/09/03/prancis-yang-rendah-diri/</link>
		<comments>http://sekadarblog.com/2010/09/03/prancis-yang-rendah-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 15:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepakbola Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Aime Jacquet]]></category>
		<category><![CDATA[Laurent Blanc]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[Zidane]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekadarblog.com/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[12 Juni 1998, pelatih Aime Jacquet menghabiskan waktu hampir 2 jam untuk bicara di depan skuad Prancis. Hari itu, Les Blues menjalani laga pertama Piala Dunia 1998 melawan Afrika Selatan.


Jacquet mengatakan kualitas skill pemainnya nggak kalah dengan Brasil. Di Eropa, mereka salah satu yang terbaik. Bahkan skuad 98 adalah generasi emas kedua Prancis. Ada maestro [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>12 Juni 1998, pelatih Aime Jacquet menghabiskan waktu hampir 2 jam untuk bicara di depan skuad Prancis. Hari itu, <em>Les Blues</em> menjalani laga pertama Piala Dunia 1998 melawan Afrika Selatan.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" src="http://i45.photobucket.com/albums/f77/wudbecker/r1087919762.jpg" alt="" width="410" height="273" /></p>
<p style="text-align: left;">
Jacquet mengatakan kualitas skill pemainnya nggak kalah dengan Brasil. Di Eropa, mereka salah satu yang terbaik. Bahkan skuad 98 adalah generasi emas kedua Prancis. Ada maestro Zinedine Zidane, gelandang jangkar sekelas Didier Deschamps, pemain belakang bertenaga model Lilian Thuram, Marcel Desailly dan Laurent Blanc serta kiper eksentrik Fabien Barthez. <span id="more-487"></span>Tapi Prancis dinilainya punya kelemahan mencolok: rendah diri. Mengapa pemain dengan nama besar itu bisa inferior begitu? Entahlah. Mungkin karena mereka main di depan publik sendiri.</p>
<p>Menurut Dessaily, bisa pula disebabkan oleh kekhawatiran pemain dicap tidak nasionalis karena asal usulnya yang imigran.</p>
<p>Itu sebabnya sejak masih di hotel sampai di kamar ganti stadion, Jacquet justru bertindak sebagai psikolog dan motivator. Belakangan diketahui tindakan Jacuqet juga atas permintaan Deschamps, Thuram dan Zidane.</p>
<p>Suntikan kata-kata Jacquet berhasil. Prancis menang telak 3-0. Selanjutnya, langkah mereka menjadi mantap hingga bisa juara untuk pertama kalinya.</p>
<p>Hari ini, jelang melawan Belarusia di kualifikasi Euro 2012, situasi terbebani dan rendah diri juga menimpa Prancis. Namun penyebabnya berbeda.</p>
<p>Mereka baru saja terpuruk di Piala Dunia 2010, tanpa pernah menang di babak grup sampai harus balik kampung lebih dini. Skuad juga diguncang disharmoni dan pembangkangan terhadap pelatih Raymond Domenech.</p>
<p>Beban terberat ada di pelatih Laurent Blanc. Sejak ditunjuk menjadi pelatih baru, Blanc nyaris tak pernah bicara tehnik. Topik setianya adalah <a href="http://sports.yahoo.com/soccer/news;_ylt=AgMdyt.Q.yzQheYUBixF_b4mw7YF?slug=ap-france-belarus">kepercayaan diri</a>. Blanc tahu timnya butuh suntikan motivasi. Dengan jeli, dua kolega lamanya<a href="http://rds.yahoo.com/_ylt=A0oGdE2WFoFMyd4AUnFNbK5_;_ylu=X3oDMTEycGR1M2wyBHNlYwNzcgRwb3MDMQRjb2xvA3NrMQR2dGlkA1MwMDJfNzI-/SIG=12a7149nb/EXP=1283614742/**http%3a//sports.yahoo.com/sow/news%3fslug=txfrancezidane"> Zidane dan Barthez</a> didatangkan untuk ikut latihan perdana timnya sebelum melawan Belarusia di Stade de France.</p>
<p>Seperti juga Jacquet, Blanc tahu benar cara mengatasinya. Maklum, dia mantan didikan Jacquet.</p>
<p>Tapi apakah hasilnya akan sama seperti pada Juni 98? Itu yang patut ditunggu. Kali ini Prancis akan tampil dengan skuad muda, bahkan empat pemain adalah debutan.</p>
<p>Tapi secara personal, saya merasa Blanc bisa melewati hadangan pertama ini.</p>
<p style="text-align: left;">&#8212;-<br />
©Photo: Reuters</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekadarblog.com/2010/09/03/prancis-yang-rendah-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jebakan Liga Champions</title>
		<link>http://sekadarblog.com/2010/09/01/jebakan-liga-champions/</link>
		<comments>http://sekadarblog.com/2010/09/01/jebakan-liga-champions/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 15:39:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liga Champions dan UEFA Cup]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekadarblog.com/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Dua musim lalu, Girondins Bordeaux juara di Ligue 1 Prancis. Maka  musim berikutnya, mereka berhak main di kompetisi paling glamor di  dunia, Liga Champions. Pelatih (lama) Laurent Blanc mengantar timnya  hingga perempat final.
Itu bukan prestasi buruk. Tapi konsekuensinya, Bordeaux gagal masuk  tiga besar Ligue 1 musim itu. Merajai setengah musim di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua musim lalu, Girondins Bordeaux juara di Ligue 1 Prancis. Maka  musim berikutnya, mereka berhak main di kompetisi paling glamor di  dunia, Liga Champions. Pelatih (lama) Laurent Blanc mengantar timnya  hingga perempat final.</p>
<p><img class="alignright" src="http://i45.photobucket.com/albums/f77/wudbecker/experience.jpg" alt="" width="146" height="220" />Itu bukan prestasi buruk. Tapi konsekuensinya, Bordeaux gagal masuk  tiga besar Ligue 1 musim itu. Merajai setengah musim di puncak klasemen,  Bordeaux akhirnya terdampar di urutan ketujuh klasemen akhir. Jangankan  tiket ke Champions, Liga Europa pun luput digenggam.</p>
<p>Nggak heran presiden Bordeaux, Jean Louis Triaud, yang ambisius (ya,  seluruh presiden klub Prancis memang ambisius, meski kesannya nafsu  besar tenaga kurang) menjadi kecewa.</p>
<p>Dia bilang, timnya kehabisan uang. Tak ada dana belanja. Itu sebabnya  <a href="http://blog.footbalistic.com/?p=1423">Yoann Gourcuff</a> harus  dilego ke Olympique Lyon. Semboyan bisnis klub Eropa: no Champions  League, no (big) shopping. <span id="more-482"></span>Liga Champions memang menjanjikan. Kompetisi itu menjadi tolok ukur  bagi pencapaian prestasi klub, pemain dan pelatih, serta finansial.</p>
<p>Akibatnya, persaingan merebut tiket jadi lebih sengit. Bahkan  kadarnya tak kalah dari perlombaan di jalur juara. Sebagai contoh bisa  dilihat di Spanyol. Dua jatah sisa tiket akan diperebutkan oleh Atletico  Madrid, Valencia, Sevilla dan Villarreal. Dua tiket lainnya sudah pasti  dikuasai Barcelona dan Real Madrid.</p>
<p>Namun Liga Champions juga menghadirkan jebakan. Bila tak disikapi  hati-hati maka klub bisa masuk dalam jurang kerugian hebat. Selain  Bordeaux, masa lalu menghadirkan korban Leeds United dan Red Star  Belgrade.</p>
<p>Liga Champions memang menyediakan keuntungan besar. Semakin jauh  langkah anda, semakin besar keuntungannya. Di Champions, sebuah tim  sudah pasti akan menerima uang tampil (match fee).</p>
<p>Jika menang dan draw, tim mendapat bonus. Hanya kalah yang tidak  diapresiasi, artinya tim hanya akan pulang dengan uang tampil.</p>
<p>Selain uang tampil, tim akan mendapat keuntungan hak siar (jika  laganya disiarkan langsung oleh tv). Jadi, tak heran tim juara seperti  Inter Milan meraih<a href="http://rds.yahoo.com/_ylt=A2KLUmH1An5M_T8Ase7QtDMD;_ylu=X3oDMTByOHQ3YjVxBHBvcwM2BHNlYwNzcgRjb2xvA3NwMgR2dGlkAw--/SIG=12kb3iem2/EXP=1283413109/**http%3a//sports.yahoo.com/sow/news%3fslug=ap-championsleague-money"> bagian uang terbesar</a> musim lalu.</p>
<p>Di liga kelas dua Eropa seperti Belgia, Yunani atau Swiss, klub  langganan ke Liga Champions mampu bersikap dengan baik. Berbeda dengan  rivalnya dari liga elite seperti di Prancis atau Inggris. Klub seperti  Anderlecht (Belgia) atau Basel (Swiss) mampu menjaga ritme untuk tampil  tetap bagus di liga lokal dan hanya menjalani nasib di Eropa.</p>
<p>Anderlecht atau Basel paham mereka tak akan pernah mampu berprestasi  hingga minimal perempat final di Liga Champions. Jadi, untuk apa  memaksakan kehendak. Mereka lebih senang memfokuskan diri di liga lokal  agar tahun depan tetap bisa tampil di Eropa. Keseimbangan keuangan  menjadi konsentrasi utama.</p>
<p>Tahun ini, Tottenham Hotspur bermain di Liga Champions untuk pertama  kalinya. Harry Redknapp bukan manajer kacangan. Seharusnya dia paham  bahwa timnya belum terbiasa bermain di dua kompetisi utama sekaligus.  Yang seharusnya dihitung adalah bagaimana mengamankan (kembali) posisi  empat Liga Premier.</p>
<p>Hingga bursa transfer musim panas ditutup 31 Agustus, Redknapp  terlihat mampu <a href="http://www.epltalk.com/van-der-vaart-to-bring-the-good-times-to-tottenham-23865">mengontrol  diri</a> untuk merekrut pemain baru, bila tak mau dikatakan gagal  (contohnya, Luis Fabiano dari Sevilla). Belanja yang terkontrol akan  bisa menjaga keuangan Spurs dari kepunahan. Sebab, banyak pengamat  menilai Spurs tak akan mampu lolos ke Liga Champions musim depan.  Hmmm&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekadarblog.com/2010/09/01/jebakan-liga-champions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diplomasi Sepakbola</title>
		<link>http://sekadarblog.com/2010/08/30/diplomasi-sepakbola/</link>
		<comments>http://sekadarblog.com/2010/08/30/diplomasi-sepakbola/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 07:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepakbola Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Logical Fallacy]]></category>
		<category><![CDATA[Suporter]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[Wanda Hamidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekadarblog.com/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[Agak mengejutkan ketika di baris waktu (timeline) Twitter saya muncul ocehan Wanda Hamidah dari hasil retweet (RT) seorang kawan.
Mantan model cantik yang menjadi anggota DPRD itu memuji dan bangga pada Arema Indonesia yang tidak menggunakan APBD. Twitnya juga menyinggung Persija Jakarta kenapa masih memakai APBD.


Ucapan Wanda itu kemudian memicu umpatan dan protes dari segelintir pengikutnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agak mengejutkan ketika di baris waktu (timeline) <a href="http://twitter.com/hedi">Twitter saya</a> muncul ocehan <a href="http://twitter.com/wanda_hamidah">Wanda Hamidah</a> dari hasil retweet (RT) seorang kawan.</p>
<p>Mantan model cantik yang menjadi anggota DPRD itu memuji dan bangga pada Arema Indonesia yang tidak menggunakan APBD. Twitnya juga menyinggung Persija Jakarta kenapa masih memakai APBD.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i45.photobucket.com/albums/f77/wudbecker/whmdtw-2.jpg" alt="" width="428" height="80" /></p>
<p><span id="more-479"></span></p>
<p>Ucapan Wanda itu kemudian memicu umpatan dan protes dari segelintir pengikutnya (follower). Bahkan dengan ucapan yang sangat tak pantas.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i45.photobucket.com/albums/f77/wudbecker/whmdtw-1.jpg" alt="" width="354" height="157" /></p>
<p>Protes dan umpatan dari pengikutnya itu bisa saya katakan sebagai <a href="http://hermansaksono.com/tag/logical-fallacy">Logical</a><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fallacy"> Fallacy</a>. Wanda hanya melakukan diplomasi sesuai tugasnya. Tapi suporter bersikap berbeda dan mungkin (merespon) menjauh dari konteks.</p>
<p>Wanda jelas sadar bahwa APBD yang digunakan di sepakbola tarkam pemda Indonesia ini jelas salah. APBD yang seharusnya digunakan untuk infrastruktur pendidikan, kesehatan atau sarana olahraga justru dialihkan untuk membayar operasional tim (termasuk gaji pemain asing!).</p>
<p>Tapi keprihatinan saya terletak pada bagaimana sikap suporter yang tak mampu memahami pesan Wanda dan justru membela timnya soal penggunaan APBD.</p>
<p>Ini sebuah poin penegasan bahwa suporter kita (sebagian) belum kondusif untuk pembangunan profesionalisme sepakbola di tanah air. Ironisnya, suporter selalu menuntut agar PSSI bersikap fair. Tuntutan itu bagus, baik dan benar. Tapi akan menjadi lebih baik dan benar bila suporter juga membenahi sikap dan pemahamannya lebih dulu.</p>
<p>Bila tidak, posisi tawar diplomasi suporter &#8212; khusus untuk soal ini saja &#8212; menjadi kurang kuat. Bagaimana PSSI mau mendengar protes mereka apabila mereka sendiri juga belum <em>nggenah</em>. Iya kan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekadarblog.com/2010/08/30/diplomasi-sepakbola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Boas</title>
		<link>http://sekadarblog.com/2010/08/22/boas/</link>
		<comments>http://sekadarblog.com/2010/08/22/boas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 13:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Offside]]></category>
		<category><![CDATA[Boas Solossa]]></category>
		<category><![CDATA[Timnas Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekadarblog.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menanyakan kesan bekas kiper Indonesia era 70-80-an, Yudo Hadiyanto, soal tim nasional jaman sekarang.
Pria yang sudah sangat sepuh itu memberi jawaban yang terkesan mencemooh yuniornya. &#8220;Payah. Semuanya mikirin ini,&#8221; katanya sambil menggosokkan ibu jari dengan empat jari di tangan kanannya.
Maksudnya, uang. Pendeknya, para pemain Indonesia jaman kini tak punya motivasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menanyakan kesan bekas kiper Indonesia era 70-80-an, Yudo Hadiyanto, soal tim nasional jaman sekarang.</p>
<p>Pria yang sudah sangat sepuh itu memberi jawaban yang terkesan mencemooh yuniornya. &#8220;Payah. Semuanya <em>mikirin</em> ini,&#8221; katanya sambil menggosokkan ibu jari dengan empat jari di tangan kanannya.</p>
<p>Maksudnya, uang. Pendeknya, para pemain Indonesia jaman kini tak punya motivasi kebangsaan ketika dipanggil ke timnas. Tidak seperti para pemain seangkatannya. Jikapun ada pada pemain masa kini, mungkin kadarnya cuma pelengkap. <span id="more-477"></span></p>
<p>Itu pula yang pernah dikatakan oleh bekas pelatih timnas asal Inggris, Peter Withe. Para pemain Indonesia hanya termotivasi oleh uang.</p>
<p>Saya paham pemain sepakbola tak akan mungkin bermain hingga usia 50 tahun. Seperti orang kantoran, misalnya. Maksimal, rata-rata cuma akan bermain hingga usia 35 tahun. Menjadi wajar jika mereka berpikir mengenai penghasilan.</p>
<p style="text-align: left;">Tetapi dipanggil ke timnas adalah kesempatan langka dan sekaligus istimewa. Saya menjadi tak habis pikir pemain sekelas Boas Solossa dan Ian Kabes mangkir untuk mengikuti pelatnas.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" src="http://i45.photobucket.com/albums/f77/wudbecker/11-7-2009-sportBoazSolossa2.jpg" alt="" width="312" height="304" /></p>
<p>Alasan pertama yang dikemukakan adalah kesulitan tiket penerbangan dari Papua ke Jakarta. Tapi ternyata, Boas terlihat bermain dalam sebuah pertandingan lokal bernuansa eksibisi atau tarkam.</p>
<p>Agak sulit bagi saya mencerna mengapa Boas memilih bermain di sebuah laga tak resmi ketimbang memenuhi panggilan timnas untuk berlatih.</p>
<p>Apabila alasan tarkam yang dipakai, itu pun tak logis. Sebagai pemain nomor satu, gajinya di Persipura Jayapura jauh di atas kebanyakan pemain Liga Indonesia. Pemain level timnas di klub masing-masing punya bayaran per tahun minimal Rp 300 juta. Libur beberapa bulan karena kompetisi sedang rehat, saya pikir tak akan memengaruhi asap dapur.</p>
<p>Alasan berikutnya yang muncul adalah kerinduan masyarakat Papua di luar wilayah Jayapura dan Wamena untuk menyaksikan Boas di lapangan. Namun pelatnas dilakukan tidak dalam waktu yang sangat lama. Untuk memuaskan dahaga masyarakat terhadap seorang bintang pasti masih bisa dilakukan setelah itu. Bahkan bisa pula dilakukan di sela-sela kompetisi, andai mau. <em>Toh</em> itu cuma laga eksibisi.</p>
<p>Alasan ketiga yang dilontarkan banyak orang adalah perlakuan lama timnas kepada Boas ketika cedera patah engkel silam. Mungkin Boas merasa sakit hati. Orang kemudian juga mengaitkannya dengan hubungan antara Indonesia dan Papua. Untuk hal ini, saya tak bisa berkomentar. Tetapi andaikata memang benar ada perlakukan tidak semestinya kepada Boas saat cedera, <em>toh </em>dia tetap menjadi pemain istimewa saat memperkuat timnas.</p>
<p>Suporter juga masih menyukainya karena dia memang hebat secara kemampuan individu.</p>
<p>Pemanggilan ke timnas adalah sebuah perlakuan istimewa. Dipercaya untuk memperkuat timnas adalah pengakuan atas kemampuan seorang pemain. Dia dianggap sebagai salah satu pemain terbaik di sebuah negeri sehingga pantas membela timnas.</p>
<p>Timnas adalah purna karir seorang pemain. Timnas adalah representasi negara di lapangan olahraga. Ini layaknya sebuah perang membela panji negara. Membela negara ada di atas segalanya, kecuali memang ada hal <em>urgent</em>.</p>
<p>Saya merasa Boas bukan orang yang tak mau membela timnas. Dia mungkin menjadi korban situasi. Tapi apapun alasannya, dia tetap harus dikenai sanksi karena menolak panggilan timnas. Bila tidak, pemain lain bisa mencontoh. Pemanggilan timnas akan dianggap sepele. Ini bisa menjadi preseden buruk dan lebih jauh lagi melemahkan timnas.</p>
<p>Bila seorang pemain tak lagi mengindahkan timnas kita yang sudah lemah itu, entah apa jadinya kesebelasan Indonesia.</p>
<p>© Image: Sriwijaya Post/Detik.com</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekadarblog.com/2010/08/22/boas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titik Nadir?</title>
		<link>http://sekadarblog.com/2010/08/03/titik-nadir/</link>
		<comments>http://sekadarblog.com/2010/08/03/titik-nadir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 08:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepakbola Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekadarblog.com/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya sah bila orang menganggap sepakbola kita sudah habis.
Tak pernah ada prestasi dari tim nasional dalam satu dekade terakhir, kekerasan dan kericuhan yang menghantui liga, pikiran instan (tarkam) hingga kewibawaan PSSI yang anjlok adalah sebuah indikator.
Carut-marutnya sepakbola makin kompleks ketika beberapa pihak yang seharusnya ada di luar justru masuk ke dalam. Presiden, Menteri Olahraga dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya sah bila orang menganggap sepakbola kita sudah habis.</p>
<p>Tak pernah ada prestasi dari tim nasional dalam satu dekade terakhir, kekerasan dan kericuhan yang menghantui liga, pikiran instan (tarkam) hingga kewibawaan PSSI yang anjlok adalah sebuah indikator.</p>
<p>Carut-marutnya sepakbola makin kompleks ketika beberapa pihak yang seharusnya ada di luar justru masuk ke dalam. Presiden, Menteri Olahraga dan Kapolda Jawa Tengah seakan menjadi ahli sepakbola.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i45.photobucket.com/albums/f77/wudbecker/DSCN0230.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p>Merasa ahli dan cakap tentu tidak dilarang. Bahkan itu diperlukan untuk membenahi sepakbola kita. Masalahnya mereka melakukannya dari luar. Itu tabu bagi FIFA, di mana Indonesia menjadi anggotanya, yang sangat eksklusif. <span id="more-474"></span></p>
<p>Presiden Prancis Nicolas Sarkozy bahkan membatalkan keinginannya untuk masuk lebih jauh mengusut aksi mogok Tim Nasional negaranya di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Dia tahu ada aturan (FIFA).</p>
<p>Sarkozy tentu bukan hanya tidak rela <em>Les Blues</em> dilarang beraktivitas di dunia internasional. Dia tentu ingin mematuhi aturan main &#8212; sebuah norma yang bernilai luhur di sepakbola dan masyarakat Eropa.</p>
<p>Norma, tatanan, orde atau apapun istilahnya itulah yang kini hilang dari sepakbola kita. Tentu saja semua bisa dibalik, seperti halnya kasus ayam dan telur itu. Maksud saya, norma sosial bisa dimulai dari lapangan sepakbola atau menunggu masyarakat luas melakukannya dulu dan membawanya ke dalam ranah 11 lawan 11.</p>
<p>Tapi benarkah sepakbola kita sudah habis? Tak ada lagi yang bisa diharapkan? Frustrasi? Menyerah?</p>
<p>Jika melihat berita-berita media massa, pasti hanya itu yang kita rasakan. Terlebih jika media hanya senang mengeksploitasi &#8220;isu kekerasan suporter&#8221; semata.</p>
<p>Kita masih punya anak-anak yang giat bermain, bahkan juga berprestasi. Tim yunior Indonesia yang ikut Piala Dunia Danone beberapa kali mengundang decak kagum negara lain. Tim Jakarta Football Academy bisa lolos hingga ke 16 besar Piala Gothia Swedia bulan lalu. Lalu Indonesia Yunior juara U-13 Asean di Kuningan, Jakarta, bulan lalu.</p>
<p>Atau jika ada waktu, selepas Ramadhan dan Idul Fitri nanti, cobalah kunjungi Lapangan ABC Senayan, Jakarta. Setiap minggu ada kompetisi U-14 Gramedia. Saya melihat gairah di sana. Bukan cuma anak-anak sebagai pemainnya, tetapi juga para pembinanya yang rata-rata mantan pemain nasional.</p>
<p>Saya berani ambil kesimpulan bahwa di sanalah kumpulan orang-orang yang paham bagaimana sepakbola dibangun. Bahkan pedagang bakso pun terampil bicara mengenai hal itu. Dia juga mampu menunjukkan di mana letak kesalahan pembina sepakbola di negeri ini.</p>
<p>Itu baru Jakarta. Saya tak tahu bagaimana gairah sepakbola anak-anak di daerah lain.</p>
<p>Membangun prestasi memang memakan waktu, seperti juga menumbuhkan anak. Tak bisa seketika.</p>
<p>Dengan kegairahan yang ada di lapangan anak-anak itu, saya masih yakin negeri ini tak pernah kehilangan potensi. Masalahnya hanya pada pengelolaan dan pengelolanya. Jangan gunakan cara preman seperti petinggi polisi kemarin. Jangan pula mencoba cara-cara Sarkozy.</p>
<p>Yang salah di sepakbola Indonesia adalah sistem, bukan hanya individu. Maka jika Anda punya potensi dan kecapakan, masuklah ke dalam sistem itu. Tapi ingat, jangan sampai Anda digerus sistem.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekadarblog.com/2010/08/03/titik-nadir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
