RSS You are home.

Loyalitas

Dalam era profesionalisme, makin sulit mencari pemain loyal. Tak ada lagi tanda-tanda patron baru setelah era Paolo Maldini, Francesco Totti atau Steven Gerrard. Bahkan Kaka yang menolak iming-iming rekor transfer termahal dari Real Madrid dan Manchester City pun masih belum bisa jadi garansi akan mengikuti pendahulunya.

Batasan menjadi pemain sewaan dengan tuntutan loyalitas sangat tipis. Lihat bagaimana sejumlah bintang Juventus kabur sewaktu tim dihukum turun ke Serie B Liga Italia.

Tentu tak melulu soal uang. Selalu ada pula pertimbangan tim nasional, kemajuan karir dan pencapaian prestasi. Apalagi kalau sang agen ikut campur terlalu dalam. 

Itu sebabnya saya harus salut pada pemain yang tetap mau membela PSIS Semarang ketika menolak tim senior dibubarkan sebelum kompetisi usai. Mereka rela gaji bulanan raib dan diganti pay per match

Itu mulia. Soal apakah mereka desperate agar dapur rumah tangga tetap ngebul, itu jelas soal lain.

Ϡ

Kejam

Pertandingan sepakbola kadang kala memang kejam. Bahkan bagi tim yang bermain sangat baik sekalipun. Itu yang disebut komentator ESPN waktu Chelsea didepak Barcelona tadi pagi.

Mungkin Kieran Gibbs bisa menyebut kakinya yang terpeleset adalah kekejaman karena membuka kekalahan 1-3 Arsenal dari Manchester United.

Pasti pendukung Chelsea juga menyebut wasit Tom Henning Ovrebo kejam karena berkali-kali tidak menggubris kemungkinan penalti. (more…)

Ϡ

Taktik atau Hiburan

Hampir semua penonton partai Barcelona vs Chelsea kemarin lusa sepakat bahwa laga itu tidak menarik. Entah sebagai fans atau penonton netral. Menjemukan adalah bahasa paling pas.

Di manapun, gaya bertahan total ala defensif pasif memang tidak menarik. Tapi suka atau tidak, strategi model itu nggak jarang malah mendatangkan gelar juara. (more…)

Ϡ

Masyarakat Sepakbola

Isu Piala Dunia-nya sudah basi. Masalahnya, siapakah masyarakat sepakbola Indonesia?

Tentu harusnya yang peduli pada sepakbola nasional. Juga bisa mereka yang rajin nonton liga lokal. Atau mereka yang gemar memenuhi stadion di seantero negeri. Kemungkinan juga komentator, hooligans, pedagang kaos replika. Jangan-jangan wartawan, polisi  dan pembuat spanduk pun termasuk yang peduli.

Tapi apakah mereka tergabung ke dalam MSBI, itu yang belum tentu. Nama MSBI pun saya baru tahu kali ini.

Yang jelas, isi spanduk dan isu Piala Dunia itu cuma komoditas politik (praktis). Sepakbola di Indonesia adalah politik praktis.

Mayoritas stadion adalah produk jaman Belanda. 90 persen tim peserta liga adalah hasil endorsement pemda. Orang-orang di PSSI juga partisan partai politik. Stadion baru yang dibangun di Indonesia juga selalu dalam rangka pilkada dan sejenisnya. Ini pengulangan metode cari massa oleh Belanda dulu.

Ini yang membuat sepakbola Indonesia nggak pernah (bisa) maju. Absurd dan tidak signifikan.

© foto: Epat 95

Ϡ