Pertanyaan itu saya sadur dari blog The Offside. Mayoritas voting mungkin condong ke pilihan kedua. Alasannya bisa beraneka warna.
Pelatih pintar biasanya mahir berkelit di tengah keterbatasan (dana). Minim modal belum tentu kecil prestasi. David Moyes di Everton adalah salah satu contoh terbaik.
Tapi sekarang masalahnya bisa berbeda. Jika pemilik kaya bergabung dengan pelatih pintar dalam satu atap, tetap saja nasib pelatih ada di ujung tanduk. Kevin Keegan dan Alan Curbishley adalah contoh korban. Wewenang pelatih dalam hal jual beli pemain bisa dilompati si bos.
Ini yang disebut kapitalisme kebablasan. Orang-orang kaya yang masuk ke klub bola kebanyakan memang jago berbisnis. Ibarat tukang sulap, batu dalam genggaman tangan bisa berubah jadi emas. Tapi bisnis bola lain lapak dan unik. Tak ada jaminan duit sama dengan gelar. Umumnya malah gelar juara yang mengundang uang. Saya jadi ingat ucapan George Graham yang juga mengeluhkan orang-orang kaya di industri bola. Menurut Graham, bola bukan sekadar bisnis. Ada sentuhan hobi dan passion. Untung boleh dan harus dicari, tapi bukan semena-mena dan instan.
Serba salah sih. Klub tak punya uang pasti sulit berprestasi. Punya uang justru bikin manajemen keblinger dan menciptakan guncangan internal. Repotnya, hampir banyak klub yang lebih senang kedatangan bos kaya. Urusan internal bakal gonjang ganjing, biarlah diurus kemudian.